Portalssi, Banda Aceh : Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyatakan layanan penukaran uang rupiah pada Ramadan 2026 diperpanjang dan kuotanya ditambah dibanding tahun lalu.
Program bertajuk Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) itu berlangsung 23 Februari–13 Maret 2026, lebih lama dibanding 2025.
“Dengan waktu yang lebih panjang dan kuota lebih besar, kami berharap semakin banyak masyarakat yang terlayani,” kata Agus dalam bincang media, Kamis, 26 Februari 2026.
Seperti tahun sebelumnya, penukaran dilakukan melalui aplikasi PINTAR (Penukaran dan Tarik Uang Rupiah). Masyarakat wajib mendaftar dan memilih lokasi penukaran yang tersedia.
Bank Indonesia menggandeng seluruh perbankan di Banda Aceh. Dua bank yang berkantor pusat di Jakarta Selatan juga dilibatkan untuk memperluas layanan.
Selain penukaran di kantor bank, BI dan perbankan menggelar layanan bersama pada 9–13 Maret 2026 di Taman Budaya Aceh.
Layanan kolektif itu tetap menggunakan pendaftaran melalui aplikasi PINTAR.
Kuota penukaran tahun ini meningkat. Untuk layanan bersama di Taman Budaya Aceh disediakan 1.000 kuota per hari selama 9–13 Maret.
Adapun di masing-masing bank tersedia 100 kuota penukar per hari. Sementara layanan kas keliling di sejumlah titik ditargetkan melayani hingga 500 penukar.
Batas maksimal penukaran per orang naik menjadi Rp5,3 juta hingga Rp5,5 juta, dari Rp4,3 juta pada 2025.
Imbauan Belanja Bijak
Dalam momentum Ramadan dan menjelang Idulfitri, BI kembali mengingatkan masyarakat agar berbelanja secara bijak, terutama saat menerima Tunjangan Hari Raya (THR).
Menurut Agus, belanja sesuai kebutuhan penting untuk menahan lonjakan permintaan yang berpotensi memicu inflasi.
“Stabilitas harga perlu dijaga bersama, salah satunya melalui pola konsumsi yang tidak berlebihan,” ujarnya.
Ekonomi Aceh Mulai Pulih
Terkait kondisi ekonomi daerah, Agus menyebut perekonomian Aceh masih dalam tahap pemulihan pascabencana.
Sektor pertanian, perikanan, dan peternakan terdampak sehingga pertumbuhan belum setara dengan tahun sebelumnya.
Namun, sejak Januari 2026 muncul sinyal perbaikan. Setelah mengalami penurunan tajam pada Desember, pertumbuhan mulai menunjukkan rebound, meski belum kembali ke level sebelum bencana.
Bank Indonesia memperkirakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi akan mendorong aktivitas ekonomi kembali normal.
BI juga mengarahkan programnya untuk mendukung pemulihan, termasuk membantu UMKM binaan yang terdampak agar kembali produktif.(**)

