Portalssi, Banda Acèh : Ketika delapan penari berdiri dalam satu barisan, hentakan kaki mulai terdengar, tepukan dada dan gerakan tubuh mengikuti irama, lalu syair
dilantunkan dengan penuh tenaga, saat itulah Tari Seudati menghadirkan salah satu
wajah seni pertunjukan paling kuat dari Aceh.
Seudati bukan sekadar tarian. Di dalamnya berpadu gerak, musik tubuh, syair,
kekompakan dan ekspresi yang membentuk sebuah pertunjukan khas masyarakat
Aceh, terutama yang berkembang di kawasan pesisir.
Keunikan Seudati terletak pada minimnya penggunaan instrumen musik eksternal.
Ritme pertunjukan dibangun melalui gerakan tubuh, hentakan kaki, tepukan tangan dan
pukulan dada penari yang dilakukan secara serempak.
Karena karakter gerakannya yang dinamis dan penuh semangat, Seudati kerap dikaitkan
dengan tari perang atau tribal war dance, yang merefleksikan semangat, keberanian dan kekompakan.
Delapan Penari dalam Satu Kesatuan
Dalam bentuk pertunjukan yang dikenal luas, Seudati dimainkan oleh delapan penari
laki-laki sebagai penari utama.
syeh, dua orang apeet wie di sisi kiri, seorang peet bak di bagian belakang, serta tiga penari pembantu lainnya.
Selain penari, terdapat pula aneuk syahi, yakni penyanyi yang bertugas melantunkan
syair sebagai bagian dari pertunjukan.
Setiap posisi memiliki peran dalam membangun struktur pertunjukan.
Karena itu, Seudati membutuhkan kekompakan tinggi. Kesalahan satu gerakan dapat memengaruhi keseluruhan formasi.
Di sinilah salah satu kekuatan seni Seudati terlihat: keindahan bukan hanya lahir dari
gerakan individu, tetapi dari kemampuan seluruh pemain bergerak sebagai satu
kesatuan.
Syair yang Menjadi Jiwa Pertunjukan
Seudati juga memiliki kekuatan pada syair.
Aneuk syahi melantunkan syair yang kemudian menjadi bagian dari alur dan suasana pertunjukan. Isi syair dapat membawa pesan keagamaan, nasihat, kehidupan sosial hingga berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Dengan demikian, Seudati menjadi ruang ekspresi yang menggabungkan seni gerak dan seni tutur. Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan Seudati merupakan salah satu kesenian yang memperlihatkan kekayaan seni pertunjukan Aceh karena menggabungkan gerak, syair dan nilai yang hidup di tengah masyarakat.
“Seudati memiliki kekuatan pada kekompakan gerak, syair dan ekspresi para
pelakunya. Seni ini tidak hanya menarik secara pertunjukan, tetapi juga menyimpan
nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, Seudati perlu terus
dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas seni Aceh.”
Dari Semangat Perjuangan hingga Panggung Budaya
Karakter Seudati yang penuh tenaga membuat tarian ini sering diasosiasikan dengan semangat perjuangan. Hentakan kaki, tepukan tubuh dan gerakan serempak
menghadirkan suasana yang kuat dan heroik.
Namun dalam perkembangannya, Seudati telah menjadi bagian dari berbagai ruang
pertunjukan budaya.
Tarian ini dapat ditampilkan dalam kegiatan adat, festival seni, penyambutan tamu,
kegiatan kebudayaan hingga berbagai agenda pariwisata.
Perjalanan tersebut memperlihatkan kemampuan seni tradisional untuk beradaptasi tanpa kehilangan karakter utamanya.
Seni yang Mengajarkan Kekompakan
Salah satu nilai penting yang dapat dilihat dari Seudati adalah kebersamaan.
Delapan penari harus memahami posisi masing-masing. Mereka harus mampu
mengikuti ritme, menjaga formasi dan merespons arahan syeh.
Tidak ada ruang bagi gerakan yang berjalan sendiri.
Semua harus menyatu.
Nilai tersebut membuat Seudati tidak hanya menarik sebagai tontonan, tetapi juga
memiliki pesan sosial tentang disiplin, kebersamaan dan kekompakan.
alasan mengapa Seudati tetap relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda.
Menjaga Seudati Tetap Hidup
Pelestarian Seudati membutuhkan regenerasi penari, syahi dan pelaku seni lainnya.
Pengetahuan tentang gerakan, struktur pertunjukan dan syair perlu terus diturunkan. Menurut Nurlaila, perkembangan teknologi dan media digital juga dapat dimanfaatkan
untuk memperluas pengenalan seni tradisional.
“Generasi muda sekarang memiliki ruang yang sangat luas untuk memperkenalkan seni
tradisi melalui media digital. Seudati bisa hadir di panggung pertunjukan sekaligus diperkenalkan melalui dokumentasi dan konten kreatif. Yang penting,
pengembangannya tetap menghormati bentuk dan nilai budaya yang menjadi akar
kesenian tersebut.”
Seudati pada akhirnya bukan hanya tentang delapan laki-laki yang bergerak dalam satu
formasi.
Ia adalah seni tubuh, seni syair dan seni kebersamaan yang lahir dari perjalanan
panjang masyarakat Aceh.
Hentakan kaki, tepukan tangan, pukulan dada dan lantunan syair menjadi satu bahasa seni yang khas.
Selama gerakan itu masih diwariskan dan syairnya masih dilantunkan, Seudati akan
terus menjadi salah satu suara penting dari kebudayaan Aceh.(ADV)

