Iklan

terkini

Tari Dampheng : Tarian Masyarakat Singkil Secara Turun - Temurun‎

Chaidir
21 Agustus 2026, 9:03:00 PM WIB Last Updated 2026-08-21T14:03:45Z

‎Portalssi, Banda Acèh : Aceh Singkil tidak hanya dikenal karena bentang alam dan

‎kekayaan baharinya. Di tengah kehidupan masyarakatnya, tersimpan beragam tradisi

‎yang menjadi bagian penting dari identitas budaya lokal. Salah satunya adalah Tari

‎Dampeng atau Tari Dampheng, tarian tradisional masyarakat Suku Singkil yang secara urun-temurun dikenal sebagai bagian dari prosesi adat, khususnya dalam rangkaian esta perkawinan.


‎Tari Dampeng merupakan tarian persembahan yang dahulu kerap ditampilkan ketika rombongan mempelai pria atau marapulai diarak menuju kediaman mempelai perempuan atau dara baro.


‎Kehadirannya bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan penghormatan, kebersamaan, perlindungan erta kemegahan prosesi adat perkawinan masyarakat Singkil.


‎Dalam perkembangannya, jumlah penari Dampeng mengalami perubahan. Pada masa alu, tarian ini disebut cukup dimainkan oleh dua orang penari.

Seiring perkembangan radisi, jumlahnya dapat bertambah hingga delapan orang. Jumlah penari umumnya enap karena sejumlah gerakan dilakukan secara berpasangan.

‎Gerak yang Mengiringi Perjalanan Marapulai alah satu keunikan Tari Dampeng terlihat dari pola geraknya. Dalam prosesi erkawinan, sebagian penari berada di lingkaran dalam mengelilingi marapulai. Mereka bergerak dengan pola berputar menggunakan langkah-langkah yang memiliki karakter menyerupai gerakan silat.


‎Sementara itu, penari lainnya membentuk lingkaran di bagian luar. Pada rentak tertentu, enari yang berada di lingkaran dalam dan luar kemudian melakukan gerakan secara berpasangan.

‎P

ola tersebut menciptakan pertunjukan yang dinamis sekaligus menyimpan pesan

imbolis. Lingkaran penari yang mengitari marapulai kerap dimaknai sebagai gambaran perlindungan terhadap tokoh utama dalam prosesi tersebut.


‎Dalam konteks adat perkawinan, posisi mempelai pria diperlakukan layaknya seorang aja yang sedang diantar menuju tempat berlangsungnya sebuah tahapan penting dalam kehidupannya.

Keindahan Tari Dampeng semakin lengkap dengan diringan musik tradisional. Dalam

Penyajiannya, tarian ini dikenal menggunakan instrumen seperti gendang dendang dan bangsi. Irama musik tersebut mengiringi perjalanan rombongan marapulai sekaligus membangun suasana semarak dalam prosesi adat.


‎K

etika rombongan tiba di depan rumah dara baro, Tari Dampeng kembali

‎d

ipersembahkan. Keluarga mempelai perempuan dan dara baro menyaksikan

pertunjukkan tersebut dari rumah atau bagian depan kediaman.

ada titik inilah tarian menjadi bagian dari simbol penyambutan dan penghormatan  dua keluarga yang dipersatukan melalui perkawinan.


‎B

arisan Seni yang Perlu Dikenalkan Kembali Namun, perjalanan zaman turut memengaruhi keberadaan Tari Dampeng. Dalam praktik perkawinan masyarakat Singkil saat ini, tarian tersebut disebut semakin jarang ditampilkan.


‎Sebagian masyarakat lebih memilih Shalawat Badar sebagai pengiring kedatangan mempelai pria karena dinilai memberikan suasana yang lebih religius dan khusyuk alam prosesi pernikahan.

‎P

erubahan tersebut menunjukkan bahwa tradisi budaya dapat beradaptasi dengan

‎p

erkembangan kehidupan sosial dan nilai yang berkembang di tengah masyarakat.

‎Memi

Iiki demikian, semakin jarangnya Tari


‎Dampeng ditampilkan juga menjadi perhatian tersendiri karena berpotensi membuat generasi muda semakin jauh dari salah satu entuk ekspresi budaya leluhur Singkil.


‎Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila

amjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan Tari Dampeng penting untuk terus ikenalkan sebagai bagian dari kekayaan seni dan tradisi Aceh.

Tari Dampeng memiliki nilai budaya yang kuat karena di dalamnya terdapat seni gerak, usik, kebersamaan dan tradisi masyarakat Singkil. Kita perlu terus mengenalkannya kepada generasi muda agar mereka mengetahui bahwa Aceh memiliki kekayaan seni ang sangat beragam,” ujar Nurlaila.

‎M

enurutnya, pelestarian tidak selalu harus dilakukan dengan mengembalikan tradisi

alam bentuk yang sama persis seperti masa lalu. Yang terpenting adalah nilai dan dentitas budaya tetap dijaga serta diwariskan.

Mari kita rawat bersama warisan seni seperti Tari Dampeng. Sanggar, sekolah,

omunitas, keluarga dan generasi muda dapat mengambil peran melalui latihan,

ertunjukan, dokumentasi maupun kegiatan budaya. Dengan begitu, tradisi tidak hanya

enjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat,” katanya.

isah Teungku Gemerinting dan Gerakan Elang i tengah masyarakat berkembang pula kisah mengenai asal-usul Tari Dampeng yang ikaitkan dengan seorang tokoh bernama Teungku Gemerinting, yang disebut berasal ari Singkil.

enurut cerita yang berkembang secara turun-temurun, Teungku Gemerinting

‎melakukan perjalanan menuju Pagaruyung. Dalam perjalanan, ia melewati kawasan

utan dan memilih beristirahat di atas sebuah pohon ketika malam tiba.

aat berada di atas pohon tersebut, ia disebut melihat seekor elang terbang berputar - putar di udara.

erakan burung tersebut kemudian menginspirasinya untuk menciptakan rangkaian gerak yang menggambarkan kekuatan, ketangkasan dan eperkasaan elang ketika menguasai angkasa.

isah tersebut menjadi salah satu cerita lisan yang melekat dalam pemaknaan Tari

‎Dampeng. Namun, kapan tepatnya tarian ini pertama kali muncul dan mulai menjadi

‎bagian dari prosesi perkawinan masyarakat Singkil belum dapat dipastikan secara

‎historis.

arena itu, kisah mengenai Teungku Gemerinting dan inspirasi gerakan elang lebih tepat itempatkan sebagai tradisi lisan atau cerita asal-usul yang hidup di tengah asyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang telah memiliki kepastian dokumenter.

asyarakat Singkil sendiri meyakini bahwa Tari Dampeng telah berkembang sejak masa ampau dan keberadaannya berkaitan dengan perjalanan panjang kebudayaan Singkil.

da pula pandangan yang menghubungkannya dengan masa ketika sistem kerajaan erkembang di wilayah Singkil. Namun, penentuan periode kemunculannya secara asti masih membutuhkan penelitian sejarah dan kajian budaya yang lebih mendalam.

enjaga Dampeng di Tengah Perubahan Zaman ari Dampeng pada akhirnya bukan hanya persoalan gerak dan musik. Di dalamnya


erdapat gambaran mengenai cara masyarakat Singkil memaknai perkawinan,


enghormatan kepada keluarga, kebersamaan serta perlindungan terhadap mempelai.

i tengah perubahan bentuk pesta perkawinan dan semakin kuatnya penggunaan unsur eagamaan dalam prosesi adat, keberadaan Tari Dampeng tetap memiliki nilai penting ebagai bagian dari kekayaan budaya Aceh Singkil.

elestarian tidak harus berarti mengembalikan seluruh tradisi persis seperti masa lalu.

ari Dampeng dapat diperkenalkan kembali melalui sanggar seni, sekolah, festival

udaya, kegiatan pariwisata hingga dokumentasi digital.

engan cara tersebut, generasi muda dapat mengenal bukan hanya gerakannya, tetapi

uga nilai dan cerita yang berada di balik setiap pertunjukan.

agi Aceh Singkil, Tari Dampeng merupakan bagian dari kekayaan budaya yang layak erus diperkenalkan. Ketika wisatawan datang menikmati Pulau Banyak, Danau Belibis, awasan Singkil dan berbagai destinasi lainnya, pengalaman tersebut akan semakin engkap ketika mereka juga mengenal tradisi masyarakat yang hidup di dalamnya. Melestarikan Tari Dampeng berarti menjaga satu bagian dari ingatan budaya asyarakat Singkil agar tetap hidup.

ebab, sebuah tradisi tidak akan benar-benar hilang selama masih ada generasi yang

au mengenal, memainkan, merawat dan mewariskannya. (ADV)


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Tari Dampheng : Tarian Masyarakat Singkil Secara Turun - Temurun‎

Terkini