Portalssi, Banda Acèh : Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, S.Pd.I., M.Pd.I., mengingatkan seluruh dayah di Aceh untuk tetap menjadikan kitab kuning sebagai inti pembelajaran.
Pesan itu disampaikan saat membuka FGD Uji Publik Pergub Kurikulum Dayah di Hotel Rasamala, Banda Aceh, Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Forum yang diinisiasi Bidang Pemberdayaan Santri ini berlangsung hingga 19 Oktober dan diikuti 20 perwakilan dayah.
Muhsin menegaskan, identitas dayah melekat pada kitab kuning. Bukan hanya warisan tradisi, tapi juga amanat regulasi.
"Semua dayah di Aceh mesti menerapkan pembelajaran kitab kuning. Ini amanah undang-undang sekaligus ciri khas utama lembaga pendidikan dayah. Salah satu alasan mendasar mengapa suatu lembaga disebut dayah adalah karena adanya pembelajaran kitab kuning," tegas Muhsin.
Ia tidak melarang dayah berinovasi. Program tahfiz, bahasa asing, vokasi, hingga sains dipersilakan berkembang.
Hanya saja, kata dia, modernisasi tidak boleh menggeser fondasi. Porsi kitab kuning harus tetap dominan dan terstruktur.
"Silakan jika ada dayah yang ingin mengembangkan program tahfiz atau program pendidikan lainnya. Itu merupakan bagian dari kebutuhan dan pengembangan pendidikan. Namun, pembelajaran kitab kuning juga harus mendapatkan porsi yang cukup dan tidak boleh dihilangkan," ujarnya.
Menurutnya, kitab-kitab muktabarah adalah pintu masuk santri untuk menguasai akidah, fikih, akhlak, nahwu-sharaf, hadis dan tafsir secara mendalam.
"Pada kegiatan ini, kita juga akan melahirkan Draft Keputusan Gubernur Aceh tentang Standar Minimal kitab-kitab Muktabarah yang menjadi rujukan bagi pembelajaran di dayah," kata Tgk. Muhammad.
FGD ini merupakan tindak lanjut dari Pergub Kurikulum Dayah yang telah terbit 2025.
Hadir sebagai narasumber Kabid Pemberdayaan Santri Efendi, S.E., M.M., Ketua PB HUDA Abiya Dr. H. Anwar Usman, perwakilan Biro Hukum Setda Aceh Dr. Dekstro Alfa, dan mantan Kabid Pemberdayaan Santri Tgk. Irwan, S.H.I. Diskusi dipandu Wakil Ketua Majelis Akreditasi Dayah Dr. Teuku Zulkhairi.
Melalui forum tiga hari ini, kurikulum dayah diharapkan semakin kuat, modern, namun tetap berpijak pada tradisi keilmuan Islam Aceh.(**)

