Portalssi, Aceh : Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyatakan Aceh Ramadhan Festival yang masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara memiliki kekuatan kolektif menghidupkan tradisi dan memperkuat ukhuwah.
"Ramadhan di Aceh selalu memiliki nuansa yang khas, yang tidak hanya hadir sebagai momentum spiritual personal, tetapi juga sebagai kekuatan kolektif yang menghidupkan tradisi, mempererat ukhuwah, dan menggerakkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat," kata Gubernur Aceh di Banda Aceh, Minggu.
Pernyataan itu disampaikan Muzakir Manaf dalam pidato tertulis dibacakan Asisten II Setda Aceh, T Robby Irza saat membuka Aceh Ramadhan Festival bertajuk “The Truly SpiritualJourney in Serambi Mekkah” di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Ia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan penegasan jati diri Aceh sebagai daerah yang menawarkan bukan sekadar
destinasi, melainkan pengalaman spiritual yang tumbuh alami dalam keseharian masyarakatnya.
"Kita ingin setiap tamu yang datang merasakan kedamaian saat adzan berkumandang, menyaksikan syiar Islam yang tertib dan khusyuk, menikmati kekayaan kuliner berbuka, serta merasakan keramahan masyarakat Aceh yang tulus dan bersahaja," katanya.
Ia mengatakan Aceh Ramadhan Festival juga menjadi bagian penting dari strategi memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi wisata halal unggulan di tingkat nasional dan internasional.
"Kita bersyukur, kegiatan ini kembali masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara, yang menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan terhadap Aceh sebagai daerah dengan karakter budaya dan religius yang khas," katanya.
Menurut dia ARF sekaligus menjadi ruang penguatan ekonomi kreatif dan UMKM lokal. Di mana kehadiran para pelaku usaha dalam
Gampong Ramadhan mencerminkan bahwa ekonomi rakyat dapat tumbuh melalui kolaborasi, inovasi, dan ruang-ruang kreatif yang terkelola dengan baik.
Pemerintah Aceh akan terus mendorong penguatan UMKM, kuliner tradisional, kriya, dan produk kreatif lainnya agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang menjadi rohnya.
"Kita meyakini bahwa masa depan ekonomi Aceh bertumpu pada kreativitas masyarakatnya. Ketika budaya, tradisi, dan nilai religius berpadu dengan inovasi dan profesionalisme, maka insya Allah, pertumbuhan ekonomi akan berjalan seiring dengan penguatan jati diri daerah," katanya.
Pemerintah Aceh juga terus berupaya melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi secara bertahap, agar masyarakat terdampak dapat kembali bangkit dan aktivitas sosial ekonomi segera pulih.
"Semangat penyelenggaraan festival ini menjadi simbol bahwa di tengah ujian, masyarakat Aceh tetap kuat, bersatu, dan optimis menatap masa depan. Mari kita tampilkan wajah Aceh yang ramah, santun dan profesional, sehingga kesan yang tertanam di hati para pengunjung adalah kesan yang indah dan membanggakan," katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Dedy Yuswadi mengatakan
Aceh Ramadhan Festival 2026 berlangsung dari 1 sampai 7 Maret 2026.
"Kegiatan ini merepresentasikan perjalanan spiritual Ramadhan yang menghadirkan harmoni antara ibadah, budaya, ekonomi umat, serta kebersamaan masyarakat Aceh sebagai identitas Serambi Mekah yang hidup dan menginspirasi," katanya.
Menurut dia Aceh Ramadhan Festival tahun ini menjadi semakin istimewa karena kembali terpilih sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, program strategis Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang menghadirkan 125 event terbaik dari 38 provinsi di seluruh Indonesia guna memperkuat daya tarik pariwisata nasional sekaligus mendorong pemerataan dampak ekonomi daerah.
Adapun rangkaian Aceh Ramadhan Festival 2026 meliputi Gampong Ramadhan, pameran Mushaf Al-Qur’an yang digagas Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh dan talkshow Ekonomi Syariah dan Literasi Keuangan bersama Bank Indonesia dan OJK.
Kemudian Ramadhan Berbagi bersama Pertamina dan Grab, Live Tadarus Al Quran, program Ramadhan Donasi untuk bencana dan buka puasa bersama dalam rangka Khanduri Nuzulul Quran.
Ia menambahkan penyelenggaraan Aceh Ramadhan Festival 2026 memiliki makna tersendiri. Di mana kegiatan tersebut tidak menggunakan dukungan anggaran APBA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, karena Pemerintah Aceh memprioritaskan anggaran untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir di Aceh.
"Semangat kolaborasi dan gotong royong
seluruh pihak menjadikan festival ini tetap dapat terselenggara sebagai wujud komitmen bersama dalam menjaga syiar Ramadhan di Tanah Rencong," katanya.
Pihaknya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga terlaksananya Aceh Ramadhan Festival. (**)

