Iklan

terkini

Didong kesenian Gayo Dengan Lantunan‎Syair Serta Tepukan Tangan Dan Kampas.‎

Chaidir
15 Mei 2026, 9:13:00 AM WIB Last Updated 2026-05-15T02:13:34Z



Portalssi, Acèh : Didong merupakan salah satu kesenian masyarakat Gayo yang pertunjukannya memadukan lantunan dan karangan syair yang spontan dan diiringi dengan tepukan tangan dan Kampas.


Kesenian ini jika Merujuk ke awal mulanya termasuk dalam 5 kesenian tertua di Dunia. Didong merupakan nyawa bagi masyarakat gayo. Didong sering di pentaskan pada acara – acara tertentu seperti penyambutan orang-orang besar, festival dan pengisi acara di resepsi pernikahan maupun khitanan.


‎Sayangnya didong belum terlalu dikenal di luar Takegon sebagai tempat asalnya, didong hanya berkembang dimana ia lahir, mungkin faktor minimnya hubungan dalam pelestarian budaya menjadi kesulitan tersendiri dalam pengenalannya.


‎Masyarakat Gayo di Aceh Tengah hidup di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Mereka tetap melestarikan seni budaya bangsa yang salah satunya adalah Didong. Didong adalah kesenian tradisional yang sangat populer dan diminati oleh masyarakat Gayo. Para senimannya dipanggil dengan sebutan ceh-ceh Didong. Ada beberapa nama pemain didong yang terkenal, di antaranya Ceh Lakiki, Ceh Toëet, Ceh Daman, Ceh Ibrahim Kadir, Ceh Ujang Lakiki, Ceh Ucak, Ceh Tujuh, Ceh Idris Sidang Temas, dan Ceh Abd Rauf.

‎Didong merupakan seni pertunjukkan yang dilakukan oleh para lelaki secara berkelompok (biasanya berjumlah 15 orang), dengan ekspresi yang bebas, sambil duduk bersila atau berdiri sambil mengentak-entakkan kakinya. Mereka melantunkan syair-syair berbahasa Gayo dengan suara merdu, sambil manabuh gendang, bantal atau panci dan bertepuk tangan secara bervariasi, sehingga memunculkan suara dan gerak yang indah dan menarik.

‎Seni pertunjukkan tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Gayo ini mampu bertahan hingga sekarang di tengah perkembangan teknologi dan pengaruh westernisasi. Masyarakat tidak bosan-bosannya menyaksikan ceh-ceh didong berdidong di hampir setiap malam minggu. Pertunjukannya pun dilakukan hingga semalam suntuk (dari isya hingga subuh).

‎Syair-syair yang dilantunkan dengan kekuatan perpaduan konfigurasi seni gerak, sastra dan suara bagaikan ìmenyihirî para penonton untuk ìhanyutî dan terus mendengar refleksi sosial dan religius dari ceh-ceh didong tentang berbagai persoalan sosial yang ada di masyarakat, beserta hubungan manusia dengan alam, agar hidup ini dapat disikapi secara bijaksana.
‎Regenerasi seniman Didong berjalan baik, karena hampir di setiap generasi muncul seniman-seniman berbakat dan fenomenal. Mereka umumnya bersekolah di sekolah ìrimbaî. Pengetahuan yang mereka peroleh adalah pengetahuan tentang kosmologi alam, sebagai bentuk kesadaran mikrokosmos dalam struktur realitas, dan pengetahuan akan pengetahuan dan kearifal lokal serta kebijaksanaan. Pesan-pesan yang mereka sampaikan dalam berkesenian adalah pesan-pesan humanis dan hati nurani rakyat. Tidak berlebihan apabila Sutradara Garin Nugroho, menyebutkan bahwa Aceh adalah gudang seniman handal.(**)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Didong kesenian Gayo Dengan Lantunan‎Syair Serta Tepukan Tangan Dan Kampas.‎

Terkini