Iklan

terkini

Hikayat Aceh : Karya Manuskrip Menceritakan Kehidupan Sultan Iskandar Muda‎

Chaidir
11 Mei 2026, 11:10:00 AM WIB Last Updated 2026-05-11T04:10:46Z


‎‎Portalssi, Acèh : Hikayat Aceh adalah karya manuskrip yang menceritakan kehidupan Sultan Iskandar Muda (1590–1636) ketika menjadi sultan di Kerajaan Aceh Darussalam. Naskah ini ditulis pada abad ke-17 dengan bahasa Melayu menggunakan aksara Arab. Saat ini hanya terdapat tiga salinan naskah Hikayat Aceh, dengan dua salinan berada di Universitas Leiden, Belanda dan satu salinan di Perpustakaan Nasional Jakarta.

‎Naskah Hikayat Aceh dipercaya ditulis oleh Sultan Safiyyat al-Din Syah, putri Sultan Iskandar Muda. Naskahnya tidak lengkap karena bagian awal dan bagian penutup naskah ini tidak ada. Judul naskah ini diberikan oleh Juynboll, seorang peneliti Belanda, pada tahun 1899 yang diambil dari penggalan cerita dalam naskah ini.


‎Hikayat Aceh adalah sejarah lokal dari abad ke-17 tentang bekas Kesultanan Aceh, yang terletak di ujung utara pulau Sumatra, Indonesia. Ditulis dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab, hikayat ini mengisahkan dan memuliakan Sultan Aceh, Iskandar Muda (1583-1636; berkuasa 1607-1636; dinobatkan sebagai pahlawan nasional Indonesia sejak 1993). Teks ini berisi banyak cerita tentang kehidupan dan adat istiadat di istana Aceh, hubungan dengan dunia luar (termasuk Portugal, Tiongkok, dan Turki), persaingan internal, peperangan, dan agama (Islam). Hikayat ini adalah karya unik yang menggunakan gaya sastra Melayu tradisional dengan pengaruh Persia yang kaya, penuh dengan informasi beragam dan detail sejarah. Hikayat Aceh berbeda dari kronik istana sebelumnya karena membahas kehidupan satu tokoh saja. Meskipun "Melayu" dalam komposisi, teks ini mewakili tradisi hagiografis yang lebih tua, terinspirasi terutama oleh contoh-contoh dari Persia dan kemungkinan besar ditugaskan oleh putri Iskandar Muda, Sultana Safiyyat al-Din Syah (berkuasa 1641–1675). Hikayat Aceh adalah sumber yang sangat berharga bagi siapa saja yang tertarik dengan sejarah Aceh serta ciri-ciri politik, budaya, dan agama yang luar biasa dari wilayah tersebut.

‎Pada tahun 2023, naskah Hikayat Aceh diinskripsi ke dalam register internasional Memory of the World UNESCO, melalui usulan bersama antara Indonesia dan Belanda.
Sultan Iskandar Muda, sebagai tokoh sentral dalam naskah Hikayat Aceh, memainkan peran penting dalam kejayaan Aceh dan dihormati sebagai Pahlawan Nasional Aceh oleh pemerintah Indonesia. Di bawah pemerintahannya, Aceh mencapai puncaknya dan menjadi pusat peradaban Islam utama di Asia Tenggara. Naskah Hikayat Aceh menyoroti hubungan internasional Sultan Iskandar Muda dengan negara-negara besar seperti China, Turki, Portugal, dan Semenanjung Melayu, yang menggambarkan pengaruh politik, ekonomi, spiritual, dan pendidikan dari kepemimpinannya. Naskah ini menjadi dokumen sejarah dan budaya yang penting, yang menjaga ingatan kolektif Aceh dan peranannya dalam sejarah global.

Naskah ini juga menggambarkan hubungan Aceh dengan wilayah tetangga, seperti Jazirah Arab, India, dan kesultanan-kesultanan di Asia Tenggara. Ia memberikan gambaran tentang sistem politik, khususnya aspek demokratis dalam pemilihan pemimpin, serta peran Aceh sebagai kota pelabuhan utama di Samudra Hindia bagian timur. Kegiatan agama dan spiritual di Mekkah dan Madinah juga dibahas, bersama dengan pentingnya lokasi geografis Aceh. Selain itu, naskah ini memuat deskripsi tentang tradisi Aceh, termasuk pelestarian dan integrasi elemen budaya asing dalam adat lokal, yang menekankan keterbukaan budaya Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. (**)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Hikayat Aceh : Karya Manuskrip Menceritakan Kehidupan Sultan Iskandar Muda‎

Terkini