Portalssi, Aceh : Tari Pho adalah tari yang berasal dari Aceh. Perkataan Pho berasal dari kata peubae, peubae artinya meratoh atau meratap. Pho adalah panggilan atau sebutan penghormatan dari rakyat hamba kepada Yang Mahakuasa yaitu Po Teu Allah. Bila raja yang sudah almarhum disebut Po Teumeureuhom.
Tarian ini dibawakan oleh para wanita, dahulu biasanya dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolkan pada waktu kematian, dan telah menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat, yang jumlah penarinya genap.
Pakaian tradisional Aceh dengan kostum baju kuning, celana panjang hitam berkasab, kain pinggang (ija sungket) berwarna merah hati atau hijau tua, dan selendang berwarna merah hati atau biru tua. Para penari memakai aksesori gelang kaki (gleueng gaki) dan gelang tangan (boh ru). Selain itu, juga menggunakan sanggul Aceh (sanggoi) dengan posisi agak tegak ke atas dan sedikit miring ke kanan. Penari juga menggunakan sapu tangan berwarna merah, kuning, dan hijau
Pada mulanya Pho dilakukan pada acara kematian keluarga bangsawan dan keluarga raja. Hal itu dimaksudkan untuk menyampaikan isi hati kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena ditimpa kemalangan dengan cara meratap yang melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembang agama Islam, tarian ini tidak lagi dilakukan pada waktu kematian, tetapi menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat, seperti pada acara perkawinan dan khitanan, baik sebagai upacara dan hiburan, maupun pendidikan.
Tarian Pho di Sama Tiga, Aceh Barat dimulai dengan gerak saleum (salam hormat kepada penonton. Gerak peumulia jame, kisah tentang tata cara memuliakan tamu. Gerak salawat Nabi, berisi sanjungan dan salawat kepada Nabi. Gerak kisah Saidina Hasyim, berisi sejarah Saidina Hasyim saat berperang dan syahid. Gerak doa dipoma, pada bagian ini berisi doa dan harapan serta permohonan seorang ibu ketika anaknya telah menikah agar hidup bahagia dan sejahtera. Gerak jak manoe, menceritakan prosesi saat pengantin akan mandi dan setelah mandi. Gerak hajat dipoma, bagian ini menceritakan nazar orang tua untuk menikahkan anaknya dan dapat melaksanakan pesta pernikahan anaknya. (**)

