Portalssi, Aceh : Aceh dengan segala keistimewaan dan kekayaannya baik itu kekayaan alam dan budaya yang dimiliki tentu memiliki daya tarik tersendiri, salah satunya bidang tarian. Selain tari saman, tari seudati dan tari ranup lampuan, Aceh juga dikenal dengan tarian lain yang tidak kalah memukau, yaitu tari ratoh jaro.
Menurut berbagai sumber, tarian ratoeh jaroe ini diciptakan oleh Yusri Saleh atau yang biasa dikenal sebagai dek gam. Yusri merantau ke Jakarta sekitar tahun 2000-an, bakat seni yang ia miliki menjadikannya sebagai pelatih tari di anjungan Pemerintah Aceh.
Singkat cerita ia dipercaya sebagai koreografer dalam parade di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) pada acara tari tingkat nasional dan mendapatkan gelar sebagai koreografer terbaik.
Sejak saat itu tarian ratoh jaroe mulai dikembangkannya. Tarian ini merupakan perpaduan antara beberapa tarian tradisional aceh yaitu likok pulo, rapai geleng, rateb meusekat, dan ratoh duek sehingga menghasilkan bentuk tarian unik. Hingga sekarang tarian ini dikenal baik dalam negeri maupun mancanegara.
Jika dilihat dari gerakannya mungkin tarian ini bisa dibilang mirip dangan tari saman. Namun jika diperhatikan dengan lebih jeli, maka akan terlihat perbedaan antara keduanya. Biasanya tarian ratoh jaroe dibawakan secara berkelompok oleh penari perempuan dan berjumlah genap.
Sedangkan tari saman dibawakan oleh penari laki-laki dan terkadang juga dibawakan oleh wanita. Tarian ini sangat mengutamakan kekompakan dan keselarasan gerakan tangan sesama penari. Selain itu, gerakan tangan juga harus cepat dan tegas. Sehingga jika ada salah satu orang saja salah gerakan maka akan terlihat tidak serasi.
Sejak tahun 2011 tarian ini sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya Internasional. Seiring berjalannya waktu, tari ratoh jaroe memiliki makna dan nilai filosofis tertentu. Tarian yang dibawakan oleh perempuan dengan iringan syair religius ini dimaknai sebagai wujud semangat, jiwa pemberani dan pantang menyerah para wanita Aceh.
Eksisnya tari ratoh jaroe semakin memperlihatkan kekayaan budaya yang dimiliki aceh dan Indonesia di kancah Internasional. Sehingga diharapkan dapat menimbulkan daya tarik bagi para turis untuk mengunjungi aceh.
Tari Ratoh Jaroe adalah tarian duduk dari Aceh yang dibawakan oleh penari perempuan. Gerakan tangan harus cepat, tegas, dan kompak, dan penari juga memainkan gerakan badan dan kepala. Tari Ratoh Jaroe biasanya ditampilkan dalam acara penyambutan tamu. Tari ini memiliki makna melantunkan syair atau menceritakan kisah dengan diiringi petikan-petikan jari tangan. Syair yang dinyanyikan biasanya berisi petuah-petuah sesuai ajaran Islam. Tari ini juga memiliki makna untuk menggambarkan rasa syukur dengan puji-pujian yang dinyanyikan serta dzikir yang diucapkan pada Tuhan. Pada awal kemunculannya, tari ratoh jaroe termasuk sebagai jenis tarian kreasi karena memiliki gerakan yang menggabungkan antara tarian tradisional Aceh lainnya seperti Likok Pulo dan lain sebagainya.
Begitu rapai (alat musik pukul khas Aceh) dimainkan dan syair-syair keagamaan dilantunkan, seluruh penari mulai menari. Dengan kompak, mereka melakukan gerakan tangan dan sesekali kepala dalam posisi duduk, berlutut, atau membungkuk.
Secara etimologi, ratoh jaroe berasal dari kata ratoh yang berarti berkata atau berbincang dan “jaroe” (jari tangan). Dengan demikian tarian ini punya makna melantunkan syair atau menceritakan sebuah kisah dengan diiringi petikan-petikan jari tangan
Namun, ada perbedaan di antara kedua tarian itu. Jika saman menonjolkan gerakan badan, ratoh jaroe lebih dominan gerakan tangan serta gabungan dengan gerakan badan. Kalau saman hanya dimainkan oleh laki-laki dengan jumlah ganjil, ratoh jaroe dilakoni kaum perempuan dengan jumlah genap. Penyajian saman murni diiringi tepukan tangan, tepukan dada, dan syair yang dilantunkan pengangkat dan diikuti oleh para penarinya. Sedangkan ratoh jaroe biasanya diiringi musik rapa’i. (**)

