Portalssi, Acèh : Tari Likok Pulo berasal dari Aceh Besar, dan berasal dari suku bangsa Aceh. Arti kata likok adalah gerak tari, sedangkan Pulo Aceh berarti Pulau Aceh. Dengan demikian dapat diartikan “tari yang berasal dari Pulau Aceh”, yaitu sebuah pulau kecil yang terletak di ujung sebelah utara pulau Sumatera yang disebut juga pulau Breuh atau pulau Beras.
Tari ini menurut jenisnya digolongkan sebagai tari hiburan/pertunjukan, yang pada umumnya diadakan setelah waktu menanam padi, setelah panen dan upacara lainnya yang bersifat keramaian.
Dari hasil penelitian dapat dipastikan bahwa tari ini sudah ada jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan semasa Pemerintahan Belanda, tari ini sering dipagelarkan di beberapa tempat di Kabupaten Aceh Besar.
Semenjak tahun enam puluhan tari ini tidak pernah dipagelarkan lagi. Barulah pada tahun 1977 dan 1978, tari ini digalakkan kembali dengan menampilkannya dalam beberapa upacara keramaian. Siapa yang mencipta tarian ini, tidak diketahui, tetapi beberapa sumber mengatakan bahwa tarian ini dibawa oleh Syekh Ahmad Badhrun.
Tari ini dimainkan dalam posisi duduk bersimpuh, berbanjar bahu – membahu.
Seorang penari seniaceh yang disebut syekh berada di tengah tengah penari yang lain.
Dua orang penabuh repai (pemasik) berada di belakang atau sisi kiri/kanan penari. Sedang gerak tari, hanyalah dengan memfungsikan anggota tubuh bahagian atas; badan, tangan dan kepala.
Gerakan tari pada perinsipnya ialah : Gerak olah tubuh, ketrampilan, keseragaman/keserantakan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan ke samping kiri/kanan ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dalam tempo lambat sampai cepat.
Tarian ini biasanya dipertandingkan antara 2 (dua) kelompok. Kelompok kedua tersebut sekali tampil dengan cara berhadap-hadapan. Dalam pertandingan ini, kelompok yang satu, menirukan gerak tari kelompok yang lain. Kalah menang, ditentukan oleh kemampuan kelompok-kelompok yang bertanding menirukan gerakan tari yang dilakukan oleh kelompok lawan.
Tari ini dimainkan oleh laki-laki saja. Tiap kelompok tari didukung oleh 12 orang penari, dan 2 orang penabuh repai, sebagai pemusik. Musik pengiring terdiri dari 2(dua) buah repai yang ditabuh oleh 2 orang penabuh, selain itu terdapat juga nyanyian (radat) yang dikumandangkan oleh penari-penari, dipimpin oleh syekh . Tarian ini biasanya diadakan di atas tanah, (lapangan terbuka) beralaskan tikar, dan para penonton duduk/berdiri disekitamya. Dapat juga diadakan di atas pentas dengan di alas sesuatu alas yang lembut umpamanya sendok .
Pakaian penari terdiri dari : Baju kaos oblong, panjang tangan warna putih, celana panjang warna hitam, kain sarung (kain sesamping di pinggang), tengkuluk
Alat peraga lainnya adalah ; boh likok atau buah likok, yakni sepotong kayu sepanjang 10 cm, diameter 4 cm, berbentuk klos/gelendong tali pancing. Boh likok ini, juga berfungsi sebagai musik yakni mengatur tempo (ritmis) yang dihentak oleh penari antara satu dengan lainnya secara serentak, dalam berbagai cara, dan tingkah, yang sekaligus mendukung keindahan gerak tari.
Tari Likok Pulo adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari Aceh, Indonesia. "Likok" berarti gerak tari, sementara "Pulo" berarti pulau. Pulo di sini merujuk pada sebuah pulau kecil di ujung utara Pulau Sumatra yang juga disebut Pulau Breuh, atau Pulau Beras.
Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.
Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh Rapa'i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala. Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.
Gerak Tari Likok Pulo komposisinya dimulai dengan gerakan salam anggukan kepala dan tangan yang diselangi gerakan pinggul. Ritme tarian saling membentang dan seling ke kiri dan ke kanan sambil melantunkan syair-syair pujian kepada Sang Khalik yang diiringi dengan musik Rapai dan vokalis nyanyian syair Aceh. Seorang pemain utama yang disebut ceh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa’i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala
Pemeran Tari Likok Pulo mengenakan atasan berupa kemeja hitam dengan corak kuning pada kerah dan lengan. Bawahannya berupa celana kain hitam dan songket merah dengan corak putih mengilap atau kain sarung dengan motif Aceh.
Para penari mengenakan hiasan pelengkap seperti kain pengikat pinggang dan ikat kepala yang disebut tengkulok.
Pementasan tari Likok Pulo diiringi dengan permainan alat musik Rapa'i. Pada penyajian musik pengiring Tari Likok Pulo, rapa’i dimainkan bersama-sama oleh para penabuh yang duduk di belakang penari. Penabuh rapa’i pertama menggunakan pola pukulan Batang, sementara penabuh kedua memainkan pola Tingkahan. Di tengah barisan penabuh, Syeh berperan melantunkan syair, yang kemudian diteruskan oleh penari serta anak chahi sebagai pemain musik.
gerak utama dalam tari Likok Pulo. Pertama, gerakan Saleum diawali dengan salam hormat, penari duduk bersimpuh lalu mengangkat kedua tangan bertemu di atas kepala. Gerakan Malaleho dilakukan sambil duduk dengan tangan bergantian menepuk dada sesuai ketukan. Gerakan Alif berupa tepukan tangan ke lantai dan dada disertai ayunan tangan ke depan dan belakang. Gerakan han meupateh haba angen dilakukan bergantian antara penari ganjil dan genap dengan tepukan tangan sebagai simbol pengendalian nafsu.
Gerakan Narit Peuingat berupa ayunan tangan bergandengan ke kiri dan kanan menyerupai ombak. Gerakan Takoh Bak Jok dilakukan dengan saling mengikat tangan antar penari. Gerakan Tutui dilakukan penari dengan saling bergandengan dan salah seorang penari menaiki tangan penari lainnya menyerupai jembatan. Gerakan Saleum Penutup dilakukan dengan tepukan tangan dan salam hormat sebagai penutup tarian.
Awalnya, tarian ini dimainkan di tepi pantai dengan tikar sebagai alas, sebab masyarakat Pulo Aceh belum memiliki fasilitas panggung. Seiring perkembangan, tarian mulai dipentaskan di panggung dengan alas spons untuk menjaga lutut penari yang berlutut dalam durasi panjang. Pada masa lampau, tarian dilakukan pada malam hari setelah panen sebagai hiburan. Kini, tarian dapat ditampilkan kapan saja, baik siang maupun malam, sesuai kebutuhan acara.
Tata penyajian tari ini dibedakan menjadi dua, yaitu penyajian biasa dan penyajian bertanding (tunang). Perbedaannya terletak pada ada atau tidaknya perlombaan antar kelompok tari dari beberapa kampung. (**)

