Iklan

terkini

Tarian Laweut Merupakan Salah Satu Tari Tradisional Aceh Sudah Muncul Sejak Penjajahan Kolonial Belanda

Chaidir
09 Mei 2026, 2:15:00 PM WIB Last Updated 2026-05-09T07:16:17Z


‎‎Portalssi, Aceh : Laweut adalah salah satu tari tradisional Aceh yang dimainkan oleh kaum perempuan,dengan ketentuan tarinya berdiri. Tarian ini sudah muncul di masyarakat Aceh sejak penjajahan kolonial Belanda,dan mulai berkembang pada tahun 50-an bersamaan dengan berkembangnya tari seudati.namun seiring perjalan waktu,tari laweut mulai di tinggalkan dan dapat dikatakan hampir punah di masyarakat Aceh.Tari Laweut dalam bentuk lain adalah Seudati inong,di mana tari tersebut dimainkan dalam komposisi, formasi, jumlah penari dan bentuk babakannya sama dengan tari seudati yang dimainkan oleh para laki-laki.
Jumlah Penari  8 orang penari perempuan

‎Tidak menggunakan alat musik melainkan dengan lantunan syair oleh syahi (penyanyi) yang
‎ Dihasilkan dari lantunan syair oleh syeh dan penari, serta bunyi tubuh penari seperti tepukan tangan ke paha, hentakan kaki ke tanah, dan ketipan jari

‎Dengan kostum  Pakaian adat perempuan Aceh : celana warna hitam, baju warna kuning, selendang warna biru,sarung batubara atau maituli mata kucing, ikat pinggang dan hiasan

‎Deskripsi Singkat Tari

‎Tari Laweut yang menjadi salah satu bentuk tarian tradisional dari Provinsi Aceh. Pada mulanya, budaya tari ini berasal dari daerah Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, Indonesia. Dengan perkembangan zaman yang begitu pesat membuat budaya tari ini kemudian menyebar keseluruh daerah di Provinsi Aceh.

‎Tari Laweut disebut juga Tari Seudati Inong karena dilihat dari jumlah penari, gerakan-gerakannya, pola tarian, proses dan teknik dari tarian ini mirip seperti Tari Seudati. Kedua tari ini sama-sama ditarikan oleh 8 orang penari wanita dan 1 orang syahi (penyanyi) musik sekaligus yang memimpin gerakan penari lainnya. Yang membedakan yaitu kekhasan Tari Seudati menggunakan tepukan dada sedangkan Tari Laweut menggunakan tepukan paha bukan dada. Kata Laweut pada nama tari ini berasal dari bahasa Arab yaitu kata Salawat yaitu sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad S.A.W. Syair-syair yang mengiringi tarian ini memang lebih banyak bershalawat atas nabi. Sebelum sebutan laweut dipakai, pertama sekali tari ini disebut dengan Tari Akoon (Seudati Inong). Kemudian nama Laweut ditetapkan pada Pekan Kebudayaan Aceh II (PKA II).

‎Musik yang digunakan dalam tarian ini yaitu musik internal yang berasal dari tubuh penari seperti tepukan paha, petikan jari,tepukan tangan, hentakan kaki dan vokal syahi yang menyanyikan syair dari tarian ini. Di dalam pementasan Tari Laweut ini terdapat syair yang dilantunkan selama gerakan tarian berlangsung. Syair-syair yang terdapat pada Tari Laweut mengandung pesan-pesan tersendiri seperti mengenai keimanan, kemasyarakatan, pembangunan, dan lain-lain. Inilah yang menjadi ciri khas dari budaya dan seni Aceh terseniaceh pada tariannya dimana mengandung unsur agama Islam yang kental. Kita dapat mendengarkan syair-syair yang dilagukan saat tarian berlangsung sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan sebagai bentuk ajaran agama yang disampaikan lewat karya yang luar biasa.

‎Tari Laweut sering ditampilkan pada saat kegiatan pesta rakyat, pesta perkawinan dan peringatan hari-hari besar lainnya. Sebelum menari, gerakan dari tari ini diawali dengan penari-penari dari arah kiri atas dan kanan atas dengan jalan gerakan barisan memasuki pentas dan langsung membuat komposisi berbanjar satu. Posisi mereka menghadap kepada penonton. Sebelum tarian dimulai, para penari memberi salam hormat dengan mengangkat kedua belah tangan sebatas dada kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan tarian.

‎Berdasarkan koreografi dan peradabannya, terdapat tiga jenis tari utama: tari tradisional (turun-temurun, pakem kuat), tari kreasi (pengembangan tradisional, lebih bebas), dan tari kontemporer (modern, ekspresi bebas tanpa aturan baku). Ketiganya memiliki karakteristik gerak, kostum, dan fungsi yang berbeda dalam pertunjukan.
‎Tarian yang lahir dan berkembang di masyarakat tertentu secara turun-temurun, dilestarikan sebagai budaya setempat, serta memiliki nilai estetis dan aturan (pakem) yang kuat. Tari tradisional terbagi menjadi dua:
‎Tari Tradisional Kerakyatan: Berkembang di rakyat biasa dengan gerak sederhana.
‎Tari Tradisional Keraton: Berkembang di lingkungan bangsawan dengan penampilan mewah.
‎Tari Kreasi
‎Pengembangan dari tari tradisional dengan keunikan pada pengolahan materi daerah, menunjukkan kebebasan kreativitas dalam koreografi, dan bersifat modern sebagai sajian estetis. Tari ini sering diklasifikasikan menjadi:
‎Tari Kreasi Berpola Tradisi: Masih mengacu pada kaidah tradisi.
‎Tari Kreasi Tidak Berpola Tradisi: Cenderung melepaskan diri dari pola tradisional.
‎Tari Kontemporer
‎Jenis tari yang dipengaruhi oleh modernisasi, bersifat bebas, tidak terikat oleh pakem gerak tradisional, dan cenderung menjadi ekspresi pribadi yang unik serta kekinian.

‎Tari Laweut ini sudah berkembang sejak zaman kolonialisme Belanda, hingga kini. Tari Laweut masih dilestarikan oleh masyarakat Aceh. Tari ini dimainkan oleh delapan orang penari, satu diantaranya berperan sebagai syeh atau pemimpin Tari. uniknya Tari ini tidak diiringi alat musik, mereka hanya mengandalkan lantunan sya’ir yang dinyanyikan penari.(**)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Tarian Laweut Merupakan Salah Satu Tari Tradisional Aceh Sudah Muncul Sejak Penjajahan Kolonial Belanda

Terkini