Portalssi, Banda Acèh : Aceh tidak hanya memiliki kekayaan sejarah, adat istiadat, dan
kesenian tradisional. Di balik keragaman tersebut, provinsi paling barat Indonesia ini
juga menyimpan kekayaan bahasa daerah yang tumbuh dari pesisir, dataran tinggi,
pedalaman hingga gugusan kepulauan.
Bahasa menjadi salah satu penanda identitas masyarakat. Di dalamnya tersimpan
sejarah, nilai adat, pengetahuan lokal, cerita rakyat, hingga cara masyarakat
memandang kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Keragaman itu tercermin dari keberadaan berbagai komunitas etnolinguistik di Aceh,
seperti masyarakat Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, masyarakat
Pakpak di wilayah Subulussalam, serta komunitas bahasa di Kepulauan Simeulue dan
Kepulauan Banyak.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila
Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberagaman bahasa tersebut merupakan bagian
penting dari kekayaan budaya Aceh yang perlu terus dijaga.
warisan budaya masyarakat Aceh. Keberagaman bahasa yang kita miliki dari wilayah
pesisir, dataran tinggi hingga kepulauan menunjukkan betapa kayanya khazanah
budaya Aceh. Karena itu, pelestarian bahasa perlu dilakukan secara bersama-sama
agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”
Dari Bahasa Aceh hingga Bahasa Gayo
Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki wilayah penggunaan
luas di Aceh, terutama di kawasan pesisir. Bahasa ini memiliki sejumlah variasi dialek
yang berkembang sesuai dengan wilayah penuturnya.
Bahasa Aceh juga tidak berdiri sendiri sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahasa
tersebut menjadi medium berbagai tradisi lisan, seperti hikayat, hadih maja, syair, dan
ungkapan-ungkapan yang mengandung nilai kehidupan masyarakat.
Sementara di dataran tinggi, masyarakat Gayo memiliki Bahasa Gayo yang menjadi
bagian penting dari identitas budaya di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Bahasa Gayo memiliki keterkaitan erat dengan kesenian tradisional, salah satunya
didong. Seni bertutur ini memadukan syair, vokal, tepukan, dan permainan kata yang
menjadikan bahasa sebagai bagian utama dari pertunjukan budaya.
Di Aceh Tenggara, masyarakat Alas memiliki Bahasa Alas. Bahasa tersebut digunakan
dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari pewarisan nilai adat serta
pengetahuan lokal masyarakat Alas. Sementara di kawasan timur Aceh, masyarakat Tamiang memiliki Bahasa Tamiang, yang
berada dalam lingkungan kebahasaan Melayu dan menjadi salah satu identitas budaya
masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang.
Bahasa Jamee, Kluet hingga Singkil
Kekayaan bahasa Aceh semakin terlihat di wilayah pantai barat dan selatan.
hubungan dengan bahasa Minangkabau. Dalam perkembangannya, bahasa tersebut
hidup berdampingan dengan Bahasa Aceh dan lingkungan budaya setempat.
Di Aceh Selatan juga terdapat Bahasa Kluet yang digunakan masyarakat Kluet.
Keberadaan bahasa ini menjadi salah satu bagian penting dari keragaman budaya di
wilayah tersebut.
Bergerak ke selatan, masyarakat Aceh Singkil memiliki Bahasa Singkil. Sementara di
Kota Subulussalam dan wilayah sekitarnya terdapat keragaman bahasa yang berkaitan
dengan komunitas Pakpak dan kelompok masyarakat lokal lainnya.
Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa bahasa berkembang mengikuti perjalanan
masyarakat. Interaksi antarkelompok membuat kosakata, ungkapan, dan tradisi tutur
dapat saling memengaruhi tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Simeulue, Pulau dengan Kekayaan Bahasa
Kekayaan bahasa Aceh juga sangat menonjol di Kepulauan Simeulue.
Di pulau tersebut dikenal beberapa bahasa daerah, antara lain Bahasa Devayan,
Sigulai, dan Lekon. Keberadaan beberapa bahasa dalam satu wilayah kepulauan
menjadi gambaran bagaimana kondisi geografis, sejarah permukiman, dan interaksi
masyarakat ikut membentuk keragaman linguistik.
Selain itu, terdapat Bahasa Haloban yang digunakan masyarakat Haloban di Kepulauan
Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.
Bahasa Nias juga digunakan oleh sebagian komunitas masyarakat Nias yang bermukim
di sejumlah wilayah Aceh, termasuk dalam lingkungan masyarakat di Simeulue dan
kawasan pesisir tertentu.
Kondisi tersebut menjadikan Aceh sebagai wilayah yang memiliki kekayaan bahasa
daerah yang sangat beragam.
Bahasa Adalah Seni yang Hidup
Kekayaan bahasa di Aceh sesungguhnya tidak hanya terletak pada jumlah bahasa atau
kelompok penuturnya.
Bahasa hidup melalui seni. Ia hadir dalam hikayat, pantun, syair, hadih maja, didong,
cerita rakyat, tutur adat, hingga berbagai bentuk tradisi lisan yang berkembang di
tengah masyarakat. Melalui tradisi tersebut, bahasa menjadi media untuk menyampaikan sejarah, nasihat,
kritik sosial, humor, nilai keagamaan, hingga pesan moral.
Karena itu, hilangnya penggunaan sebuah bahasa daerah bukan sekadar berkurangnya
kosakata. Di dalamnya terdapat kemungkinan hilangnya sebagian cerita, ungkapan,
pengetahuan lokal, dan cara pandang masyarakat yang selama ini diwariskan melalui
bahasa.
Nurlaila menilai perkembangan zaman dan teknologi seharusnya tidak hanya
dipandang sebagai tantangan, tetapi juga dapat menjadi peluang untuk
memperkenalkan bahasa dan seni daerah kepada generasi muda.
“Perkembangan teknologi dapat kita manfaatkan sebagai ruang baru untuk
memperkenalkan bahasa dan seni Aceh. Generasi muda dapat menjadi bagian penting
dalam pelestarian melalui konten digital, karya seni, literasi, maupun kegiatan
kebudayaan. Yang paling penting adalah bahasa daerah tetap digunakan dan tidak
berhenti hanya sebagai dokumentasi,” ujarnya.
Merawat Bahasa, Merawat Identitas
Di tengah perkembangan zaman, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing
dalam pendidikan, pekerjaan, media serta komunikasi digital memang semakin luas.
Namun, kondisi tersebut tidak harus membuat bahasa daerah kehilangan tempat.
Keluarga dapat menjadi ruang pertama untuk mempertahankan bahasa daerah.
Sekolah, komunitas budaya, seniman, pemerintah daerah, dan media juga dapat
mengambil peran melalui dokumentasi, pertunjukan seni, penerbitan karya, serta
pemanfaatan platform digital.
Bahasa daerah bahkan dapat menjadi bagian dari promosi kebudayaan dan pariwisata
Aceh. Ketika wisatawan mengenal sebuah daerah melalui bahasa, cerita rakyat, musik,
syair, dan seni bertutur masyarakatnya, pengalaman wisata menjadi lebih kaya dan
memiliki karakter yang berbeda.
Aceh pada akhirnya bukan hanya memiliki banyak destinasi wisata dan kesenian
tradisional. Aceh juga memiliki kekayaan suara yang lahir dari bahasa masyarakatnya.
Dari pesisir hingga dataran tinggi, dari pedalaman hingga kepulauan, setiap bahasa
membawa cerita tentang masyarakat yang menuturkannya.
Menjaga bahasa berarti menjaga cerita. Menjaga cerita berarti merawat identitas.
Dan selama bahasa-bahasa itu masih dituturkan, dinyanyikan, ditulis, dan diwariskan
kepada generasi berikutnya, warisan budaya Aceh akan terus hidup di tengah
perubahan zaman.(ADV)

