Iklan

terkini

Bukan Sekadar Bahasa, Ini Warna-Warni Seni Tutur yang Menjaga Identitas‎Aceh‎

Chaidir
25 Agustus 2026, 11:15:00 AM WIB Last Updated 2026-08-25T04:15:53Z

‎Portalssi, Banda Acèh : Aceh tidak hanya memiliki kekayaan sejarah, adat istiadat, dan

‎kesenian tradisional. Di balik keragaman tersebut, provinsi paling barat Indonesia ini

‎juga menyimpan kekayaan bahasa daerah yang tumbuh dari pesisir, dataran tinggi,

‎pedalaman hingga gugusan kepulauan.

‎Bahasa menjadi salah satu penanda identitas masyarakat. Di dalamnya tersimpan

‎sejarah, nilai adat, pengetahuan lokal, cerita rakyat, hingga cara masyarakat

‎memandang kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

‎Keragaman itu tercermin dari keberadaan berbagai komunitas etnolinguistik di Aceh,

‎seperti masyarakat Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, masyarakat

‎Pakpak di wilayah Subulussalam, serta komunitas bahasa di Kepulauan Simeulue dan

‎Kepulauan Banyak.

‎Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila

‎Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberagaman bahasa tersebut merupakan bagian

‎penting dari kekayaan budaya Aceh yang perlu terus dijaga.

‎“Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas dan

‎warisan budaya masyarakat Aceh. Keberagaman bahasa yang kita miliki dari wilayah

‎pesisir, dataran tinggi hingga kepulauan menunjukkan betapa kayanya khazanah

‎budaya Aceh. Karena itu, pelestarian bahasa perlu dilakukan secara bersama-sama

‎agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”

‎Dari Bahasa Aceh hingga Bahasa Gayo

‎Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki wilayah penggunaan

‎luas di Aceh, terutama di kawasan pesisir. Bahasa ini memiliki sejumlah variasi dialek

‎yang berkembang sesuai dengan wilayah penuturnya.

‎Bahasa Aceh juga tidak berdiri sendiri sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahasa

‎tersebut menjadi medium berbagai tradisi lisan, seperti hikayat, hadih maja, syair, dan

‎ungkapan-ungkapan yang mengandung nilai kehidupan masyarakat.

‎Sementara di dataran tinggi, masyarakat Gayo memiliki Bahasa Gayo yang menjadi

‎bagian penting dari identitas budaya di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

‎Bahasa Gayo memiliki keterkaitan erat dengan kesenian tradisional, salah satunya

‎didong. Seni bertutur ini memadukan syair, vokal, tepukan, dan permainan kata yang

‎menjadikan bahasa sebagai bagian utama dari pertunjukan budaya.

‎Di Aceh Tenggara, masyarakat Alas memiliki Bahasa Alas. Bahasa tersebut digunakan

‎dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari pewarisan nilai adat serta

‎pengetahuan lokal masyarakat Alas. Sementara di kawasan timur Aceh, masyarakat Tamiang memiliki Bahasa Tamiang, yang

‎berada dalam lingkungan kebahasaan Melayu dan menjadi salah satu identitas budaya

‎masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang.

‎Bahasa Jamee, Kluet hingga Singkil

‎Kekayaan bahasa Aceh semakin terlihat di wilayah pantai barat dan selatan.

‎Masyarakat Aneuk Jamee menggunakan Bahasa Jamee yang secara historis memiliki

‎hubungan dengan bahasa Minangkabau. Dalam perkembangannya, bahasa tersebut

‎hidup berdampingan dengan Bahasa Aceh dan lingkungan budaya setempat.

‎Di Aceh Selatan juga terdapat Bahasa Kluet yang digunakan masyarakat Kluet.

‎Keberadaan bahasa ini menjadi salah satu bagian penting dari keragaman budaya di

‎wilayah tersebut.

‎Bergerak ke selatan, masyarakat Aceh Singkil memiliki Bahasa Singkil. Sementara di

‎Kota Subulussalam dan wilayah sekitarnya terdapat keragaman bahasa yang berkaitan

‎dengan komunitas Pakpak dan kelompok masyarakat lokal lainnya.

‎Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa bahasa berkembang mengikuti perjalanan

‎masyarakat. Interaksi antarkelompok membuat kosakata, ungkapan, dan tradisi tutur

‎dapat saling memengaruhi tanpa menghilangkan identitas masing-masing.

‎Simeulue, Pulau dengan Kekayaan Bahasa

‎Kekayaan bahasa Aceh juga sangat menonjol di Kepulauan Simeulue.

‎Di pulau tersebut dikenal beberapa bahasa daerah, antara lain Bahasa Devayan,

‎Sigulai, dan Lekon. Keberadaan beberapa bahasa dalam satu wilayah kepulauan

‎menjadi gambaran bagaimana kondisi geografis, sejarah permukiman, dan interaksi

‎masyarakat ikut membentuk keragaman linguistik.

‎Selain itu, terdapat Bahasa Haloban yang digunakan masyarakat Haloban di Kepulauan

‎Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

‎Bahasa Nias juga digunakan oleh sebagian komunitas masyarakat Nias yang bermukim

‎di sejumlah wilayah Aceh, termasuk dalam lingkungan masyarakat di Simeulue dan

‎kawasan pesisir tertentu.

‎Kondisi tersebut menjadikan Aceh sebagai wilayah yang memiliki kekayaan bahasa

‎daerah yang sangat beragam.

‎Bahasa Adalah Seni yang Hidup

‎Kekayaan bahasa di Aceh sesungguhnya tidak hanya terletak pada jumlah bahasa atau

‎kelompok penuturnya.

‎Bahasa hidup melalui seni. Ia hadir dalam hikayat, pantun, syair, hadih maja, didong,

‎cerita rakyat, tutur adat, hingga berbagai bentuk tradisi lisan yang berkembang di

‎tengah masyarakat. Melalui tradisi tersebut, bahasa menjadi media untuk menyampaikan sejarah, nasihat,

‎kritik sosial, humor, nilai keagamaan, hingga pesan moral.

‎Karena itu, hilangnya penggunaan sebuah bahasa daerah bukan sekadar berkurangnya

‎kosakata. Di dalamnya terdapat kemungkinan hilangnya sebagian cerita, ungkapan,

‎pengetahuan lokal, dan cara pandang masyarakat yang selama ini diwariskan melalui

‎bahasa.

‎Nurlaila menilai perkembangan zaman dan teknologi seharusnya tidak hanya

‎dipandang sebagai tantangan, tetapi juga dapat menjadi peluang untuk

‎memperkenalkan bahasa dan seni daerah kepada generasi muda.

‎“Perkembangan teknologi dapat kita manfaatkan sebagai ruang baru untuk

‎memperkenalkan bahasa dan seni Aceh. Generasi muda dapat menjadi bagian penting

‎dalam pelestarian melalui konten digital, karya seni, literasi, maupun kegiatan

‎kebudayaan. Yang paling penting adalah bahasa daerah tetap digunakan dan tidak

‎berhenti hanya sebagai dokumentasi,” ujarnya.

‎Merawat Bahasa, Merawat Identitas

‎Di tengah perkembangan zaman, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing

‎dalam pendidikan, pekerjaan, media serta komunikasi digital memang semakin luas.

‎Namun, kondisi tersebut tidak harus membuat bahasa daerah kehilangan tempat.

‎Keluarga dapat menjadi ruang pertama untuk mempertahankan bahasa daerah.

‎Sekolah, komunitas budaya, seniman, pemerintah daerah, dan media juga dapat

‎mengambil peran melalui dokumentasi, pertunjukan seni, penerbitan karya, serta

‎pemanfaatan platform digital.

‎Bahasa daerah bahkan dapat menjadi bagian dari promosi kebudayaan dan pariwisata

‎Aceh. Ketika wisatawan mengenal sebuah daerah melalui bahasa, cerita rakyat, musik,

‎syair, dan seni bertutur masyarakatnya, pengalaman wisata menjadi lebih kaya dan

‎memiliki karakter yang berbeda.

‎Aceh pada akhirnya bukan hanya memiliki banyak destinasi wisata dan kesenian

‎tradisional. Aceh juga memiliki kekayaan suara yang lahir dari bahasa masyarakatnya.

‎Dari pesisir hingga dataran tinggi, dari pedalaman hingga kepulauan, setiap bahasa

‎membawa cerita tentang masyarakat yang menuturkannya.

‎Menjaga bahasa berarti menjaga cerita. Menjaga cerita berarti merawat identitas.

‎Dan selama bahasa-bahasa itu masih dituturkan, dinyanyikan, ditulis, dan diwariskan

‎kepada generasi berikutnya, warisan budaya Aceh akan terus hidup di tengah

‎perubahan zaman.(ADV)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Bukan Sekadar Bahasa, Ini Warna-Warni Seni Tutur yang Menjaga Identitas‎Aceh‎

Terkini