Portalssi, Banda Acèh : Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan seni dan
tradisi yang kuat dengan nilai-nilai Islam. Warisan tersebut tidak hanya hadir dalam
bentuk arsitektur, adat dan ritual masyarakat, tetapi juga melalui kesenian tradisional
yang memadukan gerak, musik, bahasa dan syair.
Salah satunya adalah Tari Likok Pulo, kesenian tradisional yang berkembang di kawasan
Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Tarian ini menjadi salah satu contoh bagaimana
masyarakat Aceh menjadikan seni pertunjukan sebagai media untuk menyampaikan
pesan, nasihat dan nilai kehidupan.
Nama Likok Pulo berasal dari kata likok yang merujuk pada gerakan atau lenggak tubuh,
sedangkan pulo berarti pulau. Dalam pertunjukannya, kekuatan tarian tidak hanya
terletak pada gerakan yang dilakukan secara kompak, tetapi juga pada syair yang
mengiringinya.
Syair menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Pesan-pesan yang disampaikan dapat
berisi nasihat kehidupan, nilai keagamaan, kebersamaan serta ajakan kepada
masyarakat untuk menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.
secara serempak mengikuti irama. Di antara mereka terdapat seorang pemimpin syair
yang dikenal sebagai syekh, yang memiliki peran penting dalam menyampaikan
lantunan syair selama pertunjukan.
Kombinasi antara gerak tubuh yang dinamis, kekompakan penari, irama dan syair
menjadikan Likok Pulo bukan sekadar tontonan. Tarian ini juga menjadi salah satu
bentuk seni tutur masyarakat pesisir Aceh.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila
Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan kesenian tradisional seperti Likok Pulo
menunjukkan bahwa bahasa dan seni di Aceh memiliki hubungan yang sangat erat.
“Dalam berbagai kesenian tradisional Aceh, bahasa tidak hanya digunakan untuk
berkomunikasi, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan nilai, nasihat dan pesan
dapat berpadu menjadi sebuah pertunjukan yang memiliki makna budaya,” ujarnya.
Menurutnya, seni tradisional perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar
tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Pemanfaatan ruang pendidikan,
komunitas seni, kegiatan kebudayaan hingga media digital dinilai dapat menjadi bagian
dari upaya memperluas pengenalan terhadap kesenian Aceh.
Seni yang Menyimpan Pesan
Keunikan Likok Pulo terletak pada hubungan antara gerakan dan syair. Setiap rangkaian
pertunjukan memiliki unsur komunikasi yang membuat penonton tidak hanya
menikmati keindahan gerakan, tetapi juga dapat menangkap pesan yang disampaikan.
Hal tersebut memperlihatkan karakter kesenian tradisional Aceh yang kerap
menjadikan seni sebagai media pendidikan sosial dan moral.Tradisi semacam ini juga menunjukkan betapa pentingnya bahasa dalam kehidupan
kebudayaan Aceh. Syair, hikayat, pantun, hadih maja dan berbagai bentuk seni tutur
lainnya telah lama menjadi sarana masyarakat untuk menyampaikan pengetahuan
serta nilai kehidupan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Likok Pulo menjadi salah satu bagian dari kekayaan tersebut.
menjaga bentuk pertunjukannya, tetapi juga memastikan makna, syair dan
pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap dipahami.
Karena itu, pelestarian bahasa dan seni tidak dapat dipisahkan. Ketika syair tetap
dilantunkan dan maknanya dipahami generasi muda, maka bukan hanya sebuah
pertunjukan yang bertahan, tetapi juga sebagian dari identitas budaya masyarakat
Aceh.
Dari Pulo Aceh, Likok Pulo memperlihatkan bahwa sebuah tarian dapat menjadi ruang
pertemuan antara gerak, bahasa, syair, nilai keagamaan dan kehidupan sosial
masyarakat.
Warisan seperti inilah yang membuat seni Aceh memiliki karakter yang kuat—bukan
hanya indah untuk dipandang, tetapi juga kaya untuk didengar, dipahami dan
diwariskan. (ADV)

