Iklan

terkini

Gegedem Alat Musik Warisan Bunyi Gayo Menghadapi Tantangan Serius.

Chaidir
24 Agustus 2026, 6:15:00 PM WIB Last Updated 2026-08-24T11:15:29Z

‎Portalssi, Takengon : Kekayaan seni tradisional Aceh tidak hanya hidup melalui tarian dan

‎syair. Di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, terdapat beragam alat musik

‎tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Salah satunya adalah

‎Gegedem, alat musik membranofon yang dahulu memiliki peran penting dalam

‎berbagai kegiatan adat dan kesenian masyarakat Gayo.

‎Gegedem dimainkan dengan cara dipukul dan biasanya hadir bersama sejumlah alat

‎musik tradisional lainnya, seperti canang, memong, dan gong. Dalam tradisi

‎masyarakat, alat musik tersebut digunakan untuk mengiringi berbagai kegiatan, antara

‎lain upacara perkawinan, penyambutan tamu, serta kegiatan hiburan dan kesenian.

‎Namun, keberadaan Gegedem kini menghadapi tantangan serius.

‎Penggunaan alat musik tradisional tersebut dalam kegiatan kesenian di Aceh Tengah

‎disebut semakin jarang. Salah satu persoalannya berkaitan dengan ketersediaan alat.

‎Pengrajin yang secara khusus membuat Gegedem semakin sulit ditemukan, sehingga

‎keberadaan alat musik tersebut ikut terancam.

‎Di sejumlah pertunjukan, rapai juga semakin sering digunakan sebagai pengganti

‎Gegedem. Kondisi ini menjadi perhatian karena bagi masyarakat Gayo, Gegedem bukan

‎sekadar alat musik, tetapi bagian dari identitas budaya yang memiliki sejarah panjang.

‎Jejak Sejarah dari Tanah Gayo

‎Gegedem memiliki catatan sejarah yang dikaitkan dengan masa Kerajaan Lingga di

‎wilayah Gayo. Dalam tradisi sejarah setempat, alat musik ini telah digunakan sejak

‎masa pemerintahan Raja Sengeda pada sekitar abad ke-16.

‎Pada masa tersebut, Gegedem tidak hanya digunakan sebagai perangkat kesenian

‎dalam berbagai upacara adat. Bunyi alat musik ini juga dikaitkan dengan fungsi sebagai

‎genderang perang, terutama untuk membangkitkan semangat dan keberanian pasukan.

‎Perjalanan sejarah tersebut menunjukkan bahwa sebuah alat musik tradisional dapat

‎memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan bunyi.

‎Gegedem menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik dalam ruang adat, kesenian

‎maupun sejarah perjuangan masyarakat Gayo.

‎Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila

‎Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan alat musik tradisional seperti Gegedem

‎perlu mendapatkan perhatian karena menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat

‎daerah.

‎“Alat musik tradisional bukan hanya benda yang menghasilkan bunyi, tetapi juga

‎menyimpan sejarah, pengetahuan dan identitas masyarakat yang melahirkannya. Karena itu, keberadaan Gegedem perlu terus dikenalkan dan diwariskan kepada

‎generasi muda agar tidak kehilangan tempat dalam perkembangan seni budaya Aceh.”

‎Ketika Pengrajin Mulai Langka

‎Salah satu persoalan terbesar dalam pelestarian Gegedem adalah keberlanjutan

‎produksinya.

‎Alat musik tradisional membutuhkan keterampilan khusus dalam proses

‎pembuatannya. Ketika pengrajin semakin sedikit dan tidak ada regenerasi, maka

‎keberadaan alat musik juga akan semakin sulit dipertahankan.

‎Kondisi tersebut menjadi pekerjaan penting bagi para pemerhati budaya, pelaku seni

‎dan pemangku kepentingan kebudayaan di Gayo.

‎Pelestarian tidak cukup hanya dengan menampilkan Gegedem dalam sebuah

‎pertunjukan. Pengetahuan tentang bahan, teknik pembuatan, cara memainkan, fungsi

‎dalam upacara adat hingga sejarahnya juga perlu didokumentasikan dan diajarkan

‎kepada generasi berikutnya.

‎Upaya tersebut sekaligus dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal

‎kembali warisan budaya daerahnya.

‎Menghidupkan Kembali Bunyi yang Hampir Hilang

‎Di tengah arus modernisasi, alat musik tradisional menghadapi tantangan untuk tetap

‎digunakan. Musik modern semakin mudah diakses, sementara sejumlah alat musik

‎tradisional justru semakin jarang dimainkan.

‎Gegedem menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan zaman dapat

‎memengaruhi keberlangsungan sebuah warisan budaya.

‎Karena itu, upaya mengangkat kembali Gegedem ke ruang publik menjadi langkah

‎penting. Pemerintah, komunitas budaya, seniman, lembaga pendidikan dan

‎masyarakat dapat mengambil peran melalui pertunjukan, pelatihan, dokumentasi serta

‎pengembangan kelompok seni tradisional.

‎Pemanfaatan media digital juga dapat menjadi jalan baru. Pertunjukan Gegedem dapat

‎direkam dan diperkenalkan melalui berbagai platform sehingga masyarakat luas,

‎khususnya generasi muda, dapat mengenal suara dan sejarah alat musik tersebut.

‎Lebih jauh, keberadaan pengrajin juga perlu diperkuat agar proses pembuatan

‎Gegedem tidak berhenti pada satu generasi.

‎Sebab, ketika sebuah alat musik tradisional hilang, yang ikut terancam hilang bukan

‎hanya benda fisiknya. Ada teknik pembuatan, pola permainan, sejarah, cerita dan

‎identitas masyarakat yang ikut tersimpan di dalamnya.

‎Gegedem adalah suara dari tanah Gayo. Menjaganya berarti menjaga salah satu bagian

‎dari ingatan budaya Aceh agar tetap terdengar hingga generasi mendatang. (ADV)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Gegedem Alat Musik Warisan Bunyi Gayo Menghadapi Tantangan Serius.

Terkini