Portalssi, Takengon : Kekayaan seni tradisional Aceh tidak hanya hidup melalui tarian dan
syair. Di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, terdapat beragam alat musik
tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Salah satunya adalah
Gegedem, alat musik membranofon yang dahulu memiliki peran penting dalam
berbagai kegiatan adat dan kesenian masyarakat Gayo.
Gegedem dimainkan dengan cara dipukul dan biasanya hadir bersama sejumlah alat
musik tradisional lainnya, seperti canang, memong, dan gong. Dalam tradisi
masyarakat, alat musik tersebut digunakan untuk mengiringi berbagai kegiatan, antara
lain upacara perkawinan, penyambutan tamu, serta kegiatan hiburan dan kesenian.
Namun, keberadaan Gegedem kini menghadapi tantangan serius.
Penggunaan alat musik tradisional tersebut dalam kegiatan kesenian di Aceh Tengah
disebut semakin jarang. Salah satu persoalannya berkaitan dengan ketersediaan alat.
Pengrajin yang secara khusus membuat Gegedem semakin sulit ditemukan, sehingga
keberadaan alat musik tersebut ikut terancam.
Di sejumlah pertunjukan, rapai juga semakin sering digunakan sebagai pengganti
Gegedem. Kondisi ini menjadi perhatian karena bagi masyarakat Gayo, Gegedem bukan
sekadar alat musik, tetapi bagian dari identitas budaya yang memiliki sejarah panjang.
Jejak Sejarah dari Tanah Gayo
Gegedem memiliki catatan sejarah yang dikaitkan dengan masa Kerajaan Lingga di
wilayah Gayo. Dalam tradisi sejarah setempat, alat musik ini telah digunakan sejak
masa pemerintahan Raja Sengeda pada sekitar abad ke-16.
Pada masa tersebut, Gegedem tidak hanya digunakan sebagai perangkat kesenian
dalam berbagai upacara adat. Bunyi alat musik ini juga dikaitkan dengan fungsi sebagai
genderang perang, terutama untuk membangkitkan semangat dan keberanian pasukan.
memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan bunyi.
Gegedem menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik dalam ruang adat, kesenian
maupun sejarah perjuangan masyarakat Gayo.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila
Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan alat musik tradisional seperti Gegedem
perlu mendapatkan perhatian karena menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat
daerah.
“Alat musik tradisional bukan hanya benda yang menghasilkan bunyi, tetapi juga
menyimpan sejarah, pengetahuan dan identitas masyarakat yang melahirkannya. Karena itu, keberadaan Gegedem perlu terus dikenalkan dan diwariskan kepada
generasi muda agar tidak kehilangan tempat dalam perkembangan seni budaya Aceh.”
Ketika Pengrajin Mulai Langka
Salah satu persoalan terbesar dalam pelestarian Gegedem adalah keberlanjutan
produksinya.
Alat musik tradisional membutuhkan keterampilan khusus dalam proses
pembuatannya. Ketika pengrajin semakin sedikit dan tidak ada regenerasi, maka
keberadaan alat musik juga akan semakin sulit dipertahankan.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan penting bagi para pemerhati budaya, pelaku seni
dan pemangku kepentingan kebudayaan di Gayo.
Pelestarian tidak cukup hanya dengan menampilkan Gegedem dalam sebuah
pertunjukan. Pengetahuan tentang bahan, teknik pembuatan, cara memainkan, fungsi
dalam upacara adat hingga sejarahnya juga perlu didokumentasikan dan diajarkan
kepada generasi berikutnya.
Upaya tersebut sekaligus dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal
kembali warisan budaya daerahnya.
Menghidupkan Kembali Bunyi yang Hampir Hilang
Di tengah arus modernisasi, alat musik tradisional menghadapi tantangan untuk tetap
digunakan. Musik modern semakin mudah diakses, sementara sejumlah alat musik
tradisional justru semakin jarang dimainkan.
Gegedem menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan zaman dapat
memengaruhi keberlangsungan sebuah warisan budaya.
penting. Pemerintah, komunitas budaya, seniman, lembaga pendidikan dan
masyarakat dapat mengambil peran melalui pertunjukan, pelatihan, dokumentasi serta
pengembangan kelompok seni tradisional.
Pemanfaatan media digital juga dapat menjadi jalan baru. Pertunjukan Gegedem dapat
direkam dan diperkenalkan melalui berbagai platform sehingga masyarakat luas,
khususnya generasi muda, dapat mengenal suara dan sejarah alat musik tersebut.
Lebih jauh, keberadaan pengrajin juga perlu diperkuat agar proses pembuatan
Gegedem tidak berhenti pada satu generasi.
Sebab, ketika sebuah alat musik tradisional hilang, yang ikut terancam hilang bukan
hanya benda fisiknya. Ada teknik pembuatan, pola permainan, sejarah, cerita dan
identitas masyarakat yang ikut tersimpan di dalamnya.
Gegedem adalah suara dari tanah Gayo. Menjaganya berarti menjaga salah satu bagian
dari ingatan budaya Aceh agar tetap terdengar hingga generasi mendatang. (ADV)

