Iklan

terkini

Menghadapi Perubahan Zaman, Si Dalupa Tetap Bertahan‎

Chaidir
24 Agustus 2026, 6:11:00 PM WIB Last Updated 2026-08-24T11:11:43Z

‎Portalssi, Meulaboh : Di tengah beragam kesenian tradisional Aceh yang terus

‎menghadapi perubahan zaman, Si Dalupa menjadi salah satu seni pertunjukan rakyat

‎yang masih bertahan dan hidup di tengah masyarakat.

‎Teater rakyat ini berkembang terutama di kawasan Woyla Barat, Woyla Timur, dan

‎Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Keberadaannya tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi

‎juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang terus dipentaskan dalam berbagai

‎momentum sosial dan keagamaan.

‎Berbeda dengan pertunjukan teater modern yang mengandalkan dialog dan alur cerita

‎yang terstruktur, Si Dalupa justru memiliki karakter yang unik. Permainannya nyaris

‎tanpa dialog, sementara tempo dan pembabakan pertunjukan banyak dipengaruhi oleh

‎irama serunee kalee serta perangkat musik tradisional lainnya.

‎Di sejumlah wilayah Aceh Barat, kelompok Si Dalupa masih mendapat dukungan dari

‎masyarakat. Pertunjukan dapat digelar dalam pesta perkawinan, acara turun tanah,

‎sunat rasul, hingga perayaan hari besar Islam seperti Maulid dan Lebaran.

‎Menariknya, undangan pertunjukan Si Dalupa juga kerap meningkat setelah masyarakat

‎memasuki masa panen. Hal tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan

‎kesenian ini tidak sepenuhnya bergantung pada panggung festival atau agenda

‎pemerintah, tetapi tumbuh dari dukungan masyarakat sendiri.

‎Topeng Unik dan Kostum dari Alam

‎Salah satu ciri paling mudah dikenali dari Si Dalupa adalah penampilan para

‎pemainnya.

‎Para pemain menggunakan topeng yang secara tradisional dibuat dari pelepah pohon

‎enau, sementara kostumnya dapat menggunakan daun pisang tua atau serabut ijuk.

‎Dengan bentuk tersebut, pemain tampil menyerupai sosok yang bagi penonton dapat

‎terlihat seperti makhluk aneh, monster atau hantu.

‎Namun, penampilan tersebut tidak serta-merta menjadikan Si Dalupa sebagai

‎pertunjukan tentang hantu.

‎Sejumlah penuturan mengenai asal-usul kesenian ini justru menghubungkannya

‎dengan kisah dua bersaudara bernama Da dan Lupa. Dalam cerita tersebut, Da yang

‎lama berada di gunung kemudian kembali ke kampung dengan membawa pedang.

‎Untuk menghindari perhatian masyarakat, ia melakukan penyamaran dengan

‎mengenakan topeng dan daun pisang.

‎Unsur penyamaran itu kemudian dipercaya menjadi salah satu bagian penting dalam

‎tradisi pertunjukan Si Dalupa. Hingga kini, para pemain biasanya berganti kostum di tempat yang tersembunyi agar identitas mereka tidak diketahui penonton sebelum

‎pertunjukan dimulai.

‎Ada pula penuturan lain yang mengaitkan kemunculan permainan ini dengan masa

‎kolonial Belanda, terutama cerita tentang masyarakat petani yang melakukan

‎perlawanan terhadap kebijakan pajak. Namun, berbagai versi mengenai asal-usul

‎tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi lisan yang berkembang di

‎masyarakat dan masih membutuhkan kajian sejarah lebih lanjut.

‎Bukan Sekadar Teater

‎Si Dalupa dapat disebut sebagai salah satu bentuk pertunjukan rakyat yang memiliki

‎unsur seni sangat lengkap.

Dalam satu pertunjukan, penonton tidak hanya menyaksikan teater, tetapi juga dapat

‎menemukan berbagai unsur seni tradisional Aceh. Mulai dari kisah yang bersumber dari

‎tradisi lisan, hiem atau teka-teki Aceh, sya'e atau syair, tari-tarian, permainan rapa'i,

‎geundrang, seurunee kalee, hingga pertunjukan daboh atau debus Aceh.

‎Beberapa pertunjukan juga dapat memuat unsur pengobatan tradisional dan mantra

‎yang dalam tradisi setempat dikenal dengan istilah tertentu.

‎Semua unsur tersebut dirangkai sesuai dengan kisah dan kebutuhan pertunjukan.

‎Karena itu, Si Dalupa bukan hanya sebuah tontonan, melainkan ruang tempat berbagai

‎bentuk seni rakyat bertemu dalam satu pertunjukan.

‎Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila

‎Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan teater rakyat seperti Si Dalupa

‎memperlihatkan kekayaan seni tradisi Aceh yang lahir dan berkembang langsung dari

‎masyarakat.

‎“Si Dalupa merupakan salah satu bentuk kekayaan seni pertunjukan rakyat yang di

‎dalamnya terdapat unsur teater, musik, tari dan sastra lisan. Kesenian seperti ini

‎penting untuk terus dikenalkan karena bukan hanya menyimpan nilai hiburan, tetapi

‎juga pengetahuan dan identitas budaya masyarakat yang diwariskan dari generasi ke

‎generasi.”

‎Panggungnya Adalah Ruang Publik

‎Keunikan lain Si Dalupa adalah pertunjukannya tidak selalu membutuhkan panggung

‎khusus.

‎Kesenian ini dapat dimainkan di ruang terbuka sehingga para pemain memiliki

‎keleluasaan untuk bergerak dan berinteraksi langsung dengan penonton.

‎Batas antara pemain dan penonton pun menjadi lebih cair. Tidak jarang masyarakat

‎yang menyaksikan pertunjukan ikut terlibat dalam suasana permainan. Karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan teater rakyat. Ia tidak hanya

‎menampilkan cerita kepada penonton, tetapi menciptakan interaksi langsung dengan

‎masyarakat yang menjadi bagian dari lingkungan pertunjukan.

‎Di Aceh Barat, pola seperti ini membuat Si Dalupa tetap memiliki ruang untuk hidup.

‎Masyarakat menjadi penonton sekaligus pendukung keberlangsungan kesenian.

‎Menjaga Agar Tidak Hilang

‎Keberadaan Si Dalupa menjadi semakin penting jika melihat nasib sejumlah teater

‎rakyat Aceh lainnya yang kini semakin jarang dipentaskan atau bahkan tidak lagi

‎memiliki pelaku.

‎Seni tradisional yang tidak lagi memiliki generasi penerus akan menghadapi risiko

‎kehilangan bentuk, cerita, musik, hingga pengetahuan yang menyertainya.

‎Karena itu, pelestarian Si Dalupa tidak cukup hanya dengan menghadirkannya dalam

‎festival budaya. Dokumentasi, regenerasi pemain, pengenalan kepada generasi muda,

‎serta dukungan terhadap kelompok-kelompok seni di tingkat masyarakat menjadi

‎bagian penting untuk memastikan kesenian tersebut tetap hidup.

‎Di era digital, Si Dalupa juga memiliki peluang untuk diperkenalkan melalui

‎dokumentasi audiovisual, media sosial, ruang pendidikan dan berbagai platform

‎kebudayaan 

‎Dengan cara itu, kesenian yang tumbuh dari panggung sederhana masyarakat petani di

‎Aceh Barat dapat dikenal lebih luas tanpa kehilangan akar tradisinya.

‎Si Dalupa menunjukkan bahwa seni rakyat tidak selalu lahir dari gedung pertunjukan. Ia

‎dapat tumbuh dari halaman rumah, ruang terbuka, pesta masyarakat dan perayaan

‎keagamaan.

‎Di balik topeng, kostum dari daun dan suara alat musik tradisional, tersimpan cerita

‎tentang masyarakat yang memilih mempertahankan warisan leluhur.

‎Si Dalupa masih hidup. Dan selama masyarakat Aceh Barat terus memberinya ruang

‎untuk tampil, salah satu suara penting dari seni tradisional Aceh akan tetap terdengar.(ADV)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Menghadapi Perubahan Zaman, Si Dalupa Tetap Bertahan‎

Terkini