Portalssi, Meulaboh : Di tengah beragam kesenian tradisional Aceh yang terus
menghadapi perubahan zaman, Si Dalupa menjadi salah satu seni pertunjukan rakyat
yang masih bertahan dan hidup di tengah masyarakat.
Teater rakyat ini berkembang terutama di kawasan Woyla Barat, Woyla Timur, dan
Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Keberadaannya tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi
juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang terus dipentaskan dalam berbagai
momentum sosial dan keagamaan.
Berbeda dengan pertunjukan teater modern yang mengandalkan dialog dan alur cerita
yang terstruktur, Si Dalupa justru memiliki karakter yang unik. Permainannya nyaris
tanpa dialog, sementara tempo dan pembabakan pertunjukan banyak dipengaruhi oleh
irama serunee kalee serta perangkat musik tradisional lainnya.
Di sejumlah wilayah Aceh Barat, kelompok Si Dalupa masih mendapat dukungan dari
masyarakat. Pertunjukan dapat digelar dalam pesta perkawinan, acara turun tanah,
sunat rasul, hingga perayaan hari besar Islam seperti Maulid dan Lebaran.
Menariknya, undangan pertunjukan Si Dalupa juga kerap meningkat setelah masyarakat
memasuki masa panen. Hal tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan
kesenian ini tidak sepenuhnya bergantung pada panggung festival atau agenda
pemerintah, tetapi tumbuh dari dukungan masyarakat sendiri.
Topeng Unik dan Kostum dari Alam
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari Si Dalupa adalah penampilan para
pemainnya.
Para pemain menggunakan topeng yang secara tradisional dibuat dari pelepah pohon
enau, sementara kostumnya dapat menggunakan daun pisang tua atau serabut ijuk.
terlihat seperti makhluk aneh, monster atau hantu.
Namun, penampilan tersebut tidak serta-merta menjadikan Si Dalupa sebagai
pertunjukan tentang hantu.
Sejumlah penuturan mengenai asal-usul kesenian ini justru menghubungkannya
dengan kisah dua bersaudara bernama Da dan Lupa. Dalam cerita tersebut, Da yang
lama berada di gunung kemudian kembali ke kampung dengan membawa pedang.
Untuk menghindari perhatian masyarakat, ia melakukan penyamaran dengan
mengenakan topeng dan daun pisang.
Unsur penyamaran itu kemudian dipercaya menjadi salah satu bagian penting dalam
tradisi pertunjukan Si Dalupa. Hingga kini, para pemain biasanya berganti kostum di tempat yang tersembunyi agar identitas mereka tidak diketahui penonton sebelum
pertunjukan dimulai.
Ada pula penuturan lain yang mengaitkan kemunculan permainan ini dengan masa
kolonial Belanda, terutama cerita tentang masyarakat petani yang melakukan
perlawanan terhadap kebijakan pajak. Namun, berbagai versi mengenai asal-usul
tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi lisan yang berkembang di
masyarakat dan masih membutuhkan kajian sejarah lebih lanjut.
Bukan Sekadar Teater
Si Dalupa dapat disebut sebagai salah satu bentuk pertunjukan rakyat yang memiliki
unsur seni sangat lengkap.
menemukan berbagai unsur seni tradisional Aceh. Mulai dari kisah yang bersumber dari
tradisi lisan, hiem atau teka-teki Aceh, sya'e atau syair, tari-tarian, permainan rapa'i,
geundrang, seurunee kalee, hingga pertunjukan daboh atau debus Aceh.
Beberapa pertunjukan juga dapat memuat unsur pengobatan tradisional dan mantra
yang dalam tradisi setempat dikenal dengan istilah tertentu.
Semua unsur tersebut dirangkai sesuai dengan kisah dan kebutuhan pertunjukan.
Karena itu, Si Dalupa bukan hanya sebuah tontonan, melainkan ruang tempat berbagai
bentuk seni rakyat bertemu dalam satu pertunjukan.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila
Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan teater rakyat seperti Si Dalupa
memperlihatkan kekayaan seni tradisi Aceh yang lahir dan berkembang langsung dari
masyarakat.
“Si Dalupa merupakan salah satu bentuk kekayaan seni pertunjukan rakyat yang di
dalamnya terdapat unsur teater, musik, tari dan sastra lisan. Kesenian seperti ini
penting untuk terus dikenalkan karena bukan hanya menyimpan nilai hiburan, tetapi
juga pengetahuan dan identitas budaya masyarakat yang diwariskan dari generasi ke
generasi.”
Panggungnya Adalah Ruang Publik
Keunikan lain Si Dalupa adalah pertunjukannya tidak selalu membutuhkan panggung
khusus.
Kesenian ini dapat dimainkan di ruang terbuka sehingga para pemain memiliki
keleluasaan untuk bergerak dan berinteraksi langsung dengan penonton.
Batas antara pemain dan penonton pun menjadi lebih cair. Tidak jarang masyarakat
yang menyaksikan pertunjukan ikut terlibat dalam suasana permainan. Karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan teater rakyat. Ia tidak hanya
menampilkan cerita kepada penonton, tetapi menciptakan interaksi langsung dengan
masyarakat yang menjadi bagian dari lingkungan pertunjukan.
Di Aceh Barat, pola seperti ini membuat Si Dalupa tetap memiliki ruang untuk hidup.
Masyarakat menjadi penonton sekaligus pendukung keberlangsungan kesenian.
Menjaga Agar Tidak Hilang
Keberadaan Si Dalupa menjadi semakin penting jika melihat nasib sejumlah teater
rakyat Aceh lainnya yang kini semakin jarang dipentaskan atau bahkan tidak lagi
memiliki pelaku.
Seni tradisional yang tidak lagi memiliki generasi penerus akan menghadapi risiko
kehilangan bentuk, cerita, musik, hingga pengetahuan yang menyertainya.
Karena itu, pelestarian Si Dalupa tidak cukup hanya dengan menghadirkannya dalam
festival budaya. Dokumentasi, regenerasi pemain, pengenalan kepada generasi muda,
serta dukungan terhadap kelompok-kelompok seni di tingkat masyarakat menjadi
bagian penting untuk memastikan kesenian tersebut tetap hidup.
Di era digital, Si Dalupa juga memiliki peluang untuk diperkenalkan melalui
dokumentasi audiovisual, media sosial, ruang pendidikan dan berbagai platform
Aceh Barat dapat dikenal lebih luas tanpa kehilangan akar tradisinya.
Si Dalupa menunjukkan bahwa seni rakyat tidak selalu lahir dari gedung pertunjukan. Ia
dapat tumbuh dari halaman rumah, ruang terbuka, pesta masyarakat dan perayaan
keagamaan.
Di balik topeng, kostum dari daun dan suara alat musik tradisional, tersimpan cerita
tentang masyarakat yang memilih mempertahankan warisan leluhur.
Si Dalupa masih hidup. Dan selama masyarakat Aceh Barat terus memberinya ruang
untuk tampil, salah satu suara penting dari seni tradisional Aceh akan tetap terdengar.(ADV)

