Iklan

terkini

Pinto Aceh, Karya Seni Tidak Hanya Indah Dipandang, Tapi Mampu Menjadi Penanda Sebuah Daerah.

Chaidir
23 Agustus 2026, 9:29:00 AM WIB Last Updated 2026-08-23T02:30:09Z

‎Portalssi, Banda Acèh :  Ada karya seni yang tidak hanya indah dipandang, tetapi mampu menjadi penanda sebuah daerah. Di Aceh, salah satunya adalah Pinto Aceh—motif dekoratif yang berkembang dalam seni kriya dan kini menjadi salah satu identitas visual yang kuat dari Tanah Rencong.


Motif ini dapat ditemukan dalam berbagai karya, mulai dari perhiasan emas dan perak,

‎aksesori, busana, ornamen bangunan hingga produk kerajinan. Bentuknya yang khas membuat Pinto Aceh mudah dikenali sekaligus memperlihatkan bagaimana seni

tradisional dapat beradaptasi dengan berbagai media.


‎Di balik bentuk tersebut terdapat inspirasi arsitektur bersejarah Aceh. Pinto Aceh

‎dikaitkan dengan bentuk Pinto Khop, salah satu peninggalan yang berada di kawasan

‎Taman Putroe Phang, Banda Aceh, yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda.


‎Dari sebuah bentuk arsitektur, inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam

‎bahasa seni oleh tangan perajin.

‎Dari Arsitektur Menjadi Karya Seni

‎Transformasi bentuk Pinto Khop menjadi motif perhiasan menunjukkan kreativitas

‎masyarakat Aceh dalam mengolah unsur sejarah menjadi karya seni.


‎Motif tidak sekadar menyalin bentuk bangunan, tetapi mengolahnya menjadi komposisi dekoratif yang dapat diterapkan pada benda-benda berukuran kecil, terutama perhiasan.

‎Salah satu nama penting dalam sejarah perkembangan motif ini adalah Mahmud

‎Ibrahim atau Utoh Mud, perajin emas asal Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

‎Pada dekade 1920-an, Utoh Mud disebut mengembangkan desain perhiasan yang

‎kemudian dikenal sebagai Pinto Aceh.


‎Karyanya bahkan meraih penghargaan dalam sebuah kegiatan pasar malam yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda di kawasan Blang Padang, Kutaraja.


‎Dari tangan seorang perajin emas, sebuah desain kemudian berkembang menjadi motif yang digunakan secara luas hingga lintas generasi.

Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila

‎Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan perjalanan Pinto Aceh memperlihatkan

‎kemampuan seniman dan perajin Aceh dalam mengubah unsur sejarah menjadi karya seni yang memiliki karakter kuat.


“Pinto Aceh memperlihatkan bagaimana sebuah inspirasi dari lingkungan dan sejarah

‎Aceh dapat diterjemahkan menjadi karya seni. Nilai seninya tidak hanya terletak pada

‎keindahan motif, tetapi juga pada keterampilan perajin dalam mengolah bentuk, detail dan komposisi sehingga menjadi karya yang memiliki identitas.”


‎Keindahan yang Lahir dari Ketelitian

Seni Pinto Aceh sangat dekat dengan dunia kriya.

‎Pada perhiasan, motif tersebut membutuhkan ketelitian tinggi. Ukuran yang kecil justru membuat proses pengerjaan semakin membutuhkan keterampilan karena setiap detail harus dibentuk dengan presisi.


‎Perajin harus mampu menjaga keseimbangan antara bentuk, garis, pornamen dan material yang digunakan.

Hasilnya adalah sebuah karya yang tidak hanya memiliki fungsi sebagai aksesori, tetapi juga membawa karakter budaya.


Keindahan Pinto Aceh kemudian berkembang melalui berbagai media. Motifnya dapat ditemukan pada bros, kalung, gelang, cincin, hiasan pakaian, sarung, ornamen interior hingga berbagai produk kerajinan.

‎Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa seni tradisional tidak selalu harus berada dalam bentuk yang sama.


Motif dapat berubah medium, tetapi identitasnya tetap dipertahankan.

‎Seni yang Menjadi Bahasa Visual Aceh

‎Pinto Aceh akhirnya berkembang menjadi semacam bahasa visual.

‎Ketika motif tersebut hadir pada sebuah perhiasan atau produk kerajinan, masyarakat dapat mengenal keterkaitannya dengan Aceh tanpa harus melihat tulisan atau penjelasan panjang.


‎Inilah kekuatan seni motif. Ia mampu menyampaikan identitas melalui bentuk.

Menurut Nurlaila, perkembangan Pinto Aceh harus diikuti dengan regenerasi perajin agar pengetahuan dan keterampilan yang ada di balik motif tersebut tidak terputus.


“Yang perlu kita jaga adalah keterampilan dan pengetahuan di balik karya tersebut.

‎Generasi muda perlu mengetahui bagaimana sebuah motif dibuat, bagaimana sejarahnya, serta bagaimana mengembangkannya dengan pendekatan baru. Dengan begitu, seni Pinto Aceh tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.”


‎Dari Karya Lama Menuju Kreativitas Baru

‎Di tengah perkembangan ekonomi kreatif, Pinto Aceh memiliki ruang yang luas untuk

‎terus dikembangkan.

‎Perajin dan desainer muda dapat menjadikan motif tersebut sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan karya baru dalam bidang fesyen, perhiasan, interior, desain produk hingga cenderamata. Namun, inovasi tetap perlu berjalan bersama pemahaman terhadap akar budaya.

‎Pinto Aceh tidak harus dibekukan sebagai motif masa lalu. Ia dapat terus ditafsirkan

‎kembali selama karakter, sejarah dan nilai budayanya tetap dihormati.

‎Dengan cara tersebut, karya tradisional tidak hanya menjadi benda museum, tetapi

‎dapat terus hadir dalam kehidupan masyarakat.

‎Seni yang Menjaga Ingatan

‎Pinto Aceh pada akhirnya adalah pertemuan antara sejarah, arsitektur, keterampilan kriya dan kreativitas seni.


Dari inspirasi sebuah bangunan bersejarah, lahir motif yang kemudian menghiasi

‎perhiasan dan berbagai produk budaya.

‎Dari tangan perajin, bentuk tersebut berubah menjadi karya yang dapat dikenakan, dipamerkan dan diwariskan.

Lebih dari sekadar ornamen, Pinto Aceh menjadi pengingat bahwa seni dapat menjadi cara sebuah masyarakat menjaga ingatan tentang daerahnya.

Pinto Aceh bukan hanya motif yang indah. Ia adalah seni yang bercerita—tentang

‎sejarah, kreativitas dan identitas Aceh yang terus hidup melalui tangan para perajin.(ADV)


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pinto Aceh, Karya Seni Tidak Hanya Indah Dipandang, Tapi Mampu Menjadi Penanda Sebuah Daerah.

Terkini