Portalssi, Banda Acèh : Kekayaan seni tradisional Aceh tidak hanya terlihat dari gerak tari
dan bunyi alat musik, tetapi juga terdengar melalui syair yang menjadi bagian penting
dalam kehidupan kebudayaan masyarakat.
Salah satu kesenian yang memperlihatkan perpaduan tersebut adalah Rapai
Geurimpheng, kesenian tradisional yang berkembang di kawasan pesisir timur Aceh,
termasuk wilayah Aceh Utara.
Rapai Geurimpheng memadukan tabuhan rapai, gerakan tubuh yang dinamis dan
lantunan syair. Perpaduan itu membuat pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan,
tetapi juga menjadi ruang penyampaian pesan, nasihat dan nilai-nilai kehidupan yang
berkembang di tengah masyarakat.
Dalam satu pertunjukan, Rapai Geurimpheng dimainkan oleh 12 orang. Delapan orang
berperan sebagai penabuh sekaligus penari yang dikenal sebagai aneuk pulot. Tiga
orang lainnya berfungsi sebagai pengiring, sedangkan satu orang bertugas sebagai
penyair atau syahi/syah.
Kehadiran syahi menjadi salah satu unsur penting karena melalui lantunan syair,
pertunjukan memperoleh alur cerita dan pesan yang hendak disampaikan kepada
penonton.
Pertunjukan Rapai Geurimpheng memiliki sejumlah tahapan atau babak. Pertunjukan
diawali dengan salam dan gerakan mengangkat tangan secara serentak kepada
penonton yang dikenal sebagai salem aneuk syahi, kemudian dilanjutkan dengan salem
akan.
Setelah itu terdapat bagian cakrum, yang disusul dengan gerakan dinamis dan heroik
salah satu bagian yang memperlihatkan kekompakan antara gerakan pemain dan ritme
perkusi.
Selanjutnya masuk pada bagian kisah. Pada tahap ini, syahi menyampaikan syair yang
isinya dapat disesuaikan dengan konteks atau acara tempat kesenian tersebut
dipentaskan.
Pertunjukan kemudian ditutup dengan bagian yang dikenal sebagai gambus.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila
Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan Rapai Geurimpheng memperlihatkan kuatnya
hubungan antara seni musik, gerak dan bahasa dalam tradisi masyarakat Aceh.
“Rapai Geurimpheng merupakan salah satu kesenian yang memperlihatkan bagaimana
bahasa dan syair menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seni pertunjukan Aceh. Di dalamnya ada musik, gerakan, kekompakan dan pesan yang disampaikan melalui syair.
Inilah kekayaan seni tradisional yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda,”
ujarnya.
Syair sebagai Napas Pertunjukan
Dalam kesenian tradisional Aceh, syair bukan sekadar pelengkap pertunjukan. Syair
menjadi media untuk menyampaikan cerita, nasihat, nilai agama hingga pesan sosial.
Hal tersebut juga terlihat dalam Rapai Geurimpheng. Ketika tabuhan rapai mengiringi
gerakan para pemain, syahi menjadi penghubung antara pertunjukan dengan pesan
yang hendak disampaikan.
seni musik, tari dan sastra lisan. Bahasa menjadi bagian dari pertunjukan yang
membuat sebuah kesenian memiliki cerita dan makna.
Di tengah perkembangan hiburan modern, keberadaan kesenian seperti Rapai
Geurimpheng menjadi penting untuk terus dijaga. Pelestarian bukan hanya menyangkut
keberlangsungan pertunjukan, tetapi juga menjaga pengetahuan tentang teknik
memainkan rapai, pola gerak, struktur pertunjukan serta syair yang diwariskan
antargenerasi.
Dokumentasi pertunjukan, pengenalan alat musik, hingga publikasi syair dan cerita di
berbagai platform dapat membuat seni tradisi lebih dekat dengan generasi muda.
Rapai Geurimpheng pada akhirnya menunjukkan bahwa kekayaan budaya Aceh dapat
hadir melalui suara yang bertalu, gerakan yang serempak dan kata-kata yang sarat
makna.
Dari tabuhan rapai hingga lantunan syair, kesenian ini menjadi bukti bahwa bahasa
bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari seni, identitas dan cara
masyarakat Aceh mewariskan nilai kehidupan. (ADV)

