Iklan

terkini

Rapa’i, Serune Kalee, Merupakan alat musik Kekayaan Budaya Aceh

Chaidir
20 Agustus 2026, 6:55:00 PM WIB Last Updated 2026-08-20T11:55:47Z


‎

‎Portalssi, Banda Acèh : Rapa’i,  Serune Kalee, Merupakan   alat musik  Kekayaan Budaya Aceh, keberadaan alat musik tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya Aceh yang perlu terus dikenalkan, terutama kepada generasi muda.

‎

‎“Alat musik tradisional Aceh bukan hanya benda budaya, tetapi merupakan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Aceh.

‎Di dalamnya terdapat nilai-nilai, pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi," hal tersebut dikatakan oleh Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila

‎Hamjah, S.Sos., M.M.

‎

‎Menurutnya, pelestarian musik tradisional tidak cukup hanya dengan menjaga

‎keberadaan alat musiknya. Regenerasi seniman dan pengenalan terhadap seni tradisi

‎kepada generasi muda juga menjadi bagian penting agar warisan tersebut tetap hidup.

‎

‎“Yang paling penting adalah bagaimana generasi muda mengenal, mempelajari dan

‎memiliki rasa bangga terhadap seni budaya daerahnya. Ketika anak-anak muda mau

‎mempelajari alat musik tradisional, maka proses pewarisan budaya akan terus

‎berjalan,” ujarnya.

‎

‎Rapa'i dan Serune Kalee, Ikon Musik Aceh

‎Salah satu alat musik yang paling dikenal dari Aceh adalah Rapa'i. Instrumen perkusi ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan dan memiliki berbagai ukuran serta fungsi dalam pertunjukan.

‎

‎Rapa'i kerap hadir dalam berbagai kesenian Aceh dan menjadi salah satu instrumen

‎yang menghasilkan karakter ritmis kuat.

‎Sementara itu, Serune Kalee merupakan alat musik tiup tradisional dengan karakter

‎suara yang khas. Dalam sejumlah pertunjukan, Serune Kalee berpadu dengan alat musik perkusi untuk menghasilkan komposisi musik tradisional Aceh.

‎Menurut Nurlaila, keberagaman instrumen tersebut menunjukkan bahwa setiap daerah

‎di Aceh memiliki kekayaan ekspresi budaya yang patut dihargai dan dilestarikan.“Aceh memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Setiap alat musik memiliki

‎karakter, sejarah dan konteks masyarakat yang berbeda. Karena itu, kita perlu

‎melihatnya sebagai satu kesatuan kekayaan budaya Aceh yang harus dijaga bersama,” katanya.

‎

‎Aceh tidak hanya memiliki kekayaan sejarah, adat dan destinasi

‎wisata alam. Provinsi paling barat Indonesia ini juga menyimpan warisan seni musik

‎tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat.

‎Beragam alat musik seperti Rapa'i, Serune Kalee, Geundrang, Bangsi Alas, Arbab hingga

‎Canang lahir dari perjalanan budaya masyarakat Aceh yang berlangsung lintas generasi.

‎Bukan sekadar menghasilkan bunyi, alat-alat musik tersebut memiliki fungsi dalam

‎berbagai aktivitas budaya, mulai dari pertunjukan seni, penyambutan tamu, kegiatan

‎adat hingga berbagai kegiatan masyarakat.

‎Musik Tradisional sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Pelestarian alat musik tradisional juga memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan pariwisata berbasis budaya.

‎


‎Wisatawan yang datang ke Aceh tidak hanya dapat menikmati panorama alam seperti

‎pantai, pegunungan dan kawasan konservasi, tetapi juga memperoleh pengalaman dengan mengenal seni serta tradisi masyarakat.

‎

‎

Pertunjukan musik tradisional dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang

‎mempertemukan wisatawan dengan kehidupan budaya masyarakat secara langsung.

‎

‎Nurlaila menilai potensi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga seni tradisional tidak hanya menjadi warisan yang disimpan, tetapi juga hadir dalam ruang publik dan menjadi bagian dari aktivitas pariwisata.

‎

‎“Seni tradisional dapat menjadi daya tarik wisata budaya. Wisatawan tentu akan

‎mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap ketika mereka tidak hanya melihat

‎destinasi, tetapi juga mengenal seni, musik dan tradisi masyarakat setempat,” tuturnya.

‎

‎Ia menambahkan, pengembangan wisata budaya harus tetap memperhatikan nilai,

‎makna dan konteks tradisi agar kebudayaan tidak kehilangan jati dirinya.

‎

‎“Kita ingin seni budaya Aceh terus berkembang, tetapi tetap memiliki akar dan tidak kehilangan identitasnya. Pelestarian dan pengembangan harus berjalan bersama,” katanya

‎

.

‎Menjaga Suara Warisan Aceh

‎Di tengah perubahan zaman dan semakin populernya musik modern, keberadaan alat

‎musik tradisional menjadi tantangan sekaligus peluang.

‎

‎Komunitas seni, sanggar, sekolah, pelaku budaya dan pemerintah memiliki peran

‎dalam menciptakan ruang bagi generasi muda untuk mengenal serta memainkan

‎instrumen tradisional.

‎

‎Bagi wisatawan, mengenal alat musik tradisional juga menjadi cara untuk memahami Aceh dari perspektif yang berbeda.

Sebab, di balik denting, tiupan dan hentakan Rapa'i maupun Geundrang, terdapat cerita

‎tentang masyarakat yang menjaga warisan leluhurnya.

‎

‎Musik tradisional pada akhirnya bukan hanya tentang suara.Ia adalah suara ingatan, identitas dan perjalanan budaya Aceh yang terus diwariskan

‎dari satu generasi ke generasi berikutnya.

‎Karena itu, ketika wisatawan datang ke Aceh, pengalaman budaya tidak lengkap jika

‎hanya berhenti pada keindahan alam. Mendengar musik tradisional, mengenal alatnya

‎dan memahami makna di balik pertunjukannya menjadi bagian dari perjalanan untuk

‎mengenal Aceh secara lebih dekat dan lebih utuh.(Adv)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Rapa’i, Serune Kalee, Merupakan alat musik Kekayaan Budaya Aceh

Terkini