Iklan

terkini

Warisan Bunyi Tanah Rencong, Alat Musik Menyimpan Sejarah dan‎Identitas

Chaidir
23 Agustus 2026, 8:12:00 PM WIB Last Updated 2026-08-23T13:13:37Z

‎Portalssi, Banda Acèh :  Kekayaan budaya Aceh tidak hanya dapat ditemukan dalam

‎tarian, syair dan teater rakyat. Di balik berbagai pertunjukan tradisional, terdapat alat-

‎alat musik yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan menyimpan

‎cerita tentang sejarah, adat, komunikasi hingga aktivitas sehari-hari.

‎Dari tiupan Bangsi Alas di dataran tinggi Aceh Tenggara, lantunan Serune Kalee di

‎berbagai wilayah Aceh, tabuhan Rapai dan Geundrang, hingga bunyi Celempong di

‎Aceh Tamiang, setiap alat musik memiliki karakter dan fungsi yang berbeda.

‎Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa musik tradisional Aceh bukan sekadar

‎hiburan. Sebagian alat musik dahulu berfungsi sebagai sarana komunikasi masyarakat,

‎penanda kegiatan adat, pengiring tari, hingga bagian dari kehidupan sosial.

‎Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila

‎Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan alat musik tradisional perlu dipandang

‎sebagai bagian dari warisan budaya yang menyimpan pengetahuan dan identitas

‎masyarakat.

‎“Setiap alat musik tradisional memiliki cerita dan fungsi yang berbeda. Ada yang

‎menjadi pengiring seni pertunjukan, ada yang dahulu digunakan sebagai sarana

‎komunikasi masyarakat, dan ada pula yang erat dengan tradisi adat. Karena itu,

‎pelestariannya bukan hanya menjaga alatnya, tetapi juga menjaga pengetahuan, cara

‎memainkan, serta nilai budaya yang ada di dalamnya.”

‎Bangsi Alas, Suara Tradisi dari Tanah Alas

‎Di Kabupaten Aceh Tenggara, masyarakat Alas mengenal Bangsi Alas, alat musik tiup

‎yang dibuat dari bambu.

‎Bangsi memiliki kisah tradisional yang unik dalam proses pembuatannya. Dalam

‎penuturan masyarakat, pembuatan Bangsi dikaitkan dengan adanya orang yang

‎meninggal dunia di kampung tempat alat musik tersebut dibuat.

‎Bangsi yang telah selesai dibuat kemudian dihanyutkan ke sungai. Setelah diambil oleh

‎anak-anak yang menemukannya, alat tersebut kembali diambil oleh pembuatnya.

‎Bangsi yang melalui proses tersebut dipercaya menghasilkan suara yang merdu.

‎Dalam perkembangannya, terdapat pula Bangsi milik kalangan berada yang dihias

‎menggunakan perak atau suasa.

‎Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa alat musik dalam masyarakat tradisional tidak

‎hanya memiliki aspek teknis, tetapi juga dibalut dengan kepercayaan dan cerita yang

‎diwariskan secara turun-temurun. Serune Kalee, Identitas Musik Tradisional Aceh

‎Jika berbicara tentang musik tradisional Aceh, Serune Kalee merupakan salah satu

‎instrumen yang memiliki posisi penting.

‎Alat musik tiup ini dikenal di berbagai wilayah Aceh, antara lain Pidie, Aceh Utara, Aceh

‎Besar dan Aceh Barat. Serune Kalee umumnya dimainkan bersama Rapai dan

‎Geundrang, terutama dalam pertunjukan seni, tari-tarian maupun penyambutan tamu.

‎Bahan pembuatannya menggunakan material seperti kayu, kuningan dan tembaga.

‎Bentuknya menyerupai alat musik tiup sejenis serunai, dengan karakter bunyi yang

‎khas.

‎Dalam berbagai pertunjukan tradisional, Serune Kalee, Geundrang dan Rapai

‎membentuk satu kesatuan musikal yang menjadi salah satu warna penting dalam

‎kebudayaan Aceh.


‎Rapai, Denyut Perkusi Tanah Rencong

‎Rapai merupakan alat musik perkusi yang terbuat dari kayu dan kulit. Bentuknya

‎menyerupai rebana dan dimainkan dengan cara dipukul.

‎Rapai hadir dalam berbagai bentuk dan fungsi. Di antaranya dikenal Rapai Pasee atau

‎Rapai Gantung, Rapai Daboih, Rapai Geurimpheng, Rapai Pulot, serta Rapai Anak.

‎Keberadaan berbagai jenis Rapai menunjukkan luasnya tradisi perkusi dalam kesenian

‎Aceh. Tabuhannya menjadi pengiring berbagai pertunjukan dan kerap berpadu dengan

‎syair serta gerakan tari.

‎Dalam konteks seni pertunjukan, Rapai bukan hanya menghasilkan ritme. Ia menjadi

‎bagian dari energi pertunjukan yang membangun suasana sekaligus memperkuat

‎kekompakan para pemain.

‎Geundrang, Pengatur Tempo Musik Aceh

‎Pasangan penting dalam perangkat musik tradisional Aceh adalah Geundrang.

‎Alat musik pukul ini dimainkan menggunakan tangan atau pemukul dan dikenal di

‎sejumlah wilayah, termasuk Aceh Besar serta kawasan pesisir seperti Pidie dan Aceh

‎Utara.

‎Dalam perangkat musik Serune Kalee, Geundrang berperan memberikan dan menjaga

‎tempo sehingga permainan musik terdengar lebih dinamis dan teratur.

‎Perpaduan Serune Kalee, Geundrang dan Rapai menjadi salah satu bentuk ensambel

‎tradisional yang terus mewarnai berbagai kegiatan kebudayaan masyarakat Aceh.

‎Tambo, Dahulu Penanda Waktu dan Pengumpul Warga

‎Tidak semua alat musik tradisional Aceh sejak awal diciptakan untuk pertunjukan. Tambo, misalnya, merupakan alat pukul yang pada masa lalu memiliki fungsi sosial

‎yang sangat kuat. Tambo dibuat menggunakan bahan seperti batang iboh, kulit sapi dan

‎rotan sebagai peregang kulit.

‎Dalam kehidupan masyarakat dahulu, bunyi Tambo digunakan untuk menyampaikan

‎tanda waktu, termasuk berkaitan dengan waktu salat, serta mengumpulkan masyarakat

‎ke meunasah untuk membicarakan berbagai persoalan kampung.

‎Namun, perubahan teknologi komunikasi membuat fungsi tersebut semakin

‎ditinggalkan. Kehadiran pengeras suara dan perangkat komunikasi modern

‎menyebabkan penggunaan Tambo semakin jarang.

‎Kondisi ini menjadikan Tambo salah satu alat tradisional yang membutuhkan perhatian

‎dalam upaya pelestarian.

‎Taktok Trieng, dari Meunasah hingga Tengah Sawah

‎Taktok Trieng merupakan alat pukul yang dibuat dari bambu dan dikenal di sejumlah

‎wilayah Aceh, termasuk Pidie dan Aceh Besar.

‎Dalam penggunaannya, terdapat Taktok Trieng yang ditempatkan di meunasah, balai

‎pertemuan atau tempat-tempat tertentu sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

‎Ada pula bentuk yang digunakan di persawahan. Alat tersebut ditempatkan di tengah

‎sawah dan dihubungkan dengan tali menuju dangau. Ketika digerakkan, bunyinya

‎digunakan untuk mengusir burung atau gangguan lain yang dapat merusak tanaman

‎padi.

‎Dari meunasah hingga sawah, Taktok Trieng memperlihatkan bagaimana masyarakat

‎dahulu memanfaatkan bunyi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

‎Bereguh, Alat Komunikasi dari Tanduk Kerbau

‎Ada pula Bereguh, alat tiup tradisional yang dibuat dari tanduk kerbau.

‎Pada masa lalu, Bereguh dikenal di sejumlah wilayah seperti Aceh Besar, Pidie dan

‎Aceh Utara. Alat ini memiliki jangkauan nada yang terbatas, dengan variasi bunyi yang

‎sangat bergantung pada teknik meniup.

‎Fungsi utamanya bukan sebagai alat musik pertunjukan, melainkan alat komunikasi,

‎khususnya ketika seseorang berada di hutan atau berada cukup jauh dari orang lain.

‎Seiring perkembangan teknologi komunikasi, penggunaan Bereguh semakin jarang

‎ditemukan. Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana perubahan zaman dapat

‎membuat fungsi alat tradisional perlahan tergantikan.

‎Canang, Bunyi yang Mengiringi Tradisi

‎Canang merupakan salah satu alat musik tradisional yang dikenal luas di berbagai

‎daerah Aceh. Umumnya Canang dibuat dari kuningan dan bentuknya menyerupai gong berukuran

‎tertentu. Meski terdapat di banyak wilayah, fungsi dan pemaknaannya dapat berbeda

‎antara satu daerah dengan daerah lainnya.

‎Secara umum, Canang digunakan untuk mengiringi tarian tradisional. Dalam kehidupan

‎masyarakat, alat ini juga pernah menjadi bagian dari hiburan, termasuk dimainkan oleh

‎kelompok perempuan muda ketika berkumpul setelah menyelesaikan pekerjaan di

‎sawah atau pada waktu senggang.

‎Celempong, Warisan Bunyi dari Tamiang

‎Di Aceh Tamiang terdapat Celempong, alat musik tradisional yang memiliki bentuk dan

‎cara memainkan yang khas.

‎Celempong terdiri atas beberapa potongan kayu yang disusun dan dimainkan dengan

‎posisi tertentu di antara kedua kaki pemain.

‎Secara tradisional, Celempong banyak dimainkan oleh perempuan, khususnya gadis-

‎gadis. Alat musik ini juga digunakan sebagai pengiring Tari Inai, salah satu tradisi

‎budaya masyarakat Tamiang.

‎Keberadaan Celempong yang telah lama hidup di tengah masyarakat menunjukkan

‎bahwa Aceh Tamiang memiliki khazanah musik tradisional yang tidak kalah menarik

‎dibandingkan wilayah Aceh lainnya.

‎Namun, kemampuan memainkan Celempong kini semakin terbatas pada generasi

‎tertentu. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya proses regenerasi agar

‎keterampilan memainkan alat musik tradisional tidak berhenti pada generasi tua.

‎Merawat Bunyi, Menjaga Ingatan Budaya

‎Beragam alat musik tersebut memperlihatkan satu hal penting: musik tradisional Aceh

‎memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat.

‎Ada alat yang digunakan untuk mengiringi tarian, ada yang menghidupkan suasana

‎perayaan, ada yang menjadi bagian dari adat, bahkan ada yang dahulu digunakan untuk

‎berkomunikasi dan mengatur kehidupan masyarakat.

‎Nurlaila menilai pelestarian alat musik tradisional membutuhkan keterlibatan lintas

‎generasi.


‎“Tantangan kita adalah bagaimana alat-alat musik tradisional ini tetap dikenal dan

‎dimainkan oleh generasi muda. Dokumentasi, pendidikan, komunitas seni, pertunjukan

‎dan pemanfaatan media digital dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali

‎kekayaan tersebut. Jangan sampai kita hanya mengenal namanya, tetapi tidak lagi

‎mengetahui bagaimana bunyi dan cara memainkannya.”

‎Di tengah kemajuan teknologi, alat komunikasi modern dan berkembangnya industri

‎musik, keberadaan alat musik tradisional memang menghadapi tantangan. Namun, warisan tersebut masih memiliki ruang untuk berkembang. Sekolah, sanggar

‎seni, komunitas budaya, pemerintah daerah dan masyarakat dapat menjadi bagian dari

‎proses regenerasi.

‎Sebab setiap tabuhan dan tiupan bukan hanya menghasilkan suara.

‎Di dalamnya terdapat sejarah, identitas, pengetahuan lokal dan ingatan kolektif

‎masyarakat Aceh.

‎Dari Bangsi Alas hingga Celempong Tamiang, dari Serune Kalee hingga Rapai, dari

‎Tambo hingga Bereguh, semuanya menjadi bagian dari mozaik besar seni musik Aceh.

‎Menjaga alat musik tradisional berarti memastikan suara masa lalu tetap memiliki empat di masa depan (ADV)


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Warisan Bunyi Tanah Rencong, Alat Musik Menyimpan Sejarah dan‎Identitas

Terkini